Sabtu, 17 April 2010

Sekali Lagi Tentang Permukiman di Pusat Kota

Sepekan ini hujan lebat kerap turun di ibu kota dan sekitarnya. Persoalan yg datang sama seperti tahun-tahun yg lalu : banjir, jalan macet total, warga berkeluh kesah sebab terlambat tiba di tempat tujuan. Para pengendara sepeda motor berteduh di bawah jalan laying, pendapatan angkot berkurang, biaya transportasi melonjak dan sebagainya.

Dalam situasi seperti itu, alangkah eloknya jika kita tidak saling menyalahkan. Kita menghadapi banjir dan kemacetan dengan pikiran sejuk sambil mencari jalan keluar yg menarik. Formula paling elegan kiranya adalah mengurangi perjalanan, memotong jarak tujuan, mengurangi pemakaian kendaraan pribadi sambil menggunakan angkutan umum.

Kiat lain, berdomisili di kawasan superblok agar jika hendak ke lokasi tujuan cukup berjalan kaki atau bersepeda. Mengurangi perjalanan di sini dimaknakan pula sebagai ” tidak perlu keluar kantor atau rumah” kalau memang tak perlu. Efisiensi perjalanan bisa pula diartikan, pekerjaan rumah cukup dikerjakan di rumah, tidak perlu di gedung tinggi atau di mal. Atau kalau ke mal hanya sekedar ngadem, atau ngumpul apa tidak sebaiknya beraktivitas di rumah atau di kantor?

Sudah lebih 20 tahun ajakan agar publik yg bekerja di ibu kota sebaiknya berdomisili di superblok dikumandangkan. Akan tetapi tidak banyak yg tertarik melakukannya. Masyarakat selalu terbelengu oleh asumsi bahwa harga rumah di pusat kota Jakarta jauh lebih mahal dibanding pinggiran kota. Berangkat dari asumsi itu, banyak pekerja di Jakarta memilih berdiam di suburb Jakarta.

Akan tetapi sudah bertahun-tahun pula asumsi ini dipatahkan dengan data bahwa rumah di Jakarta lebih kurang sama saja dgn harga tanah di tepian kota. Masyarakat Indonesia sdh amat lama diganduli pandangan bahwa harga rumah di pusat kota DKI Jakarta jauh lebih mahal, polusif dan tetangganya tidak ramah. Masyarakat diberi kesan seram bahwa hanya ”orang berduit” yg bisa berdiam di Jakarta. Tentu tidak semua pandangan ini benar.

Dalam era lalu lintas makin macet dan banjir makin sulit ditangani tuntas, apa tidak sebaiknya kalau kita menanggalkan keinginan tentang hunian di tepi kota, tetapi bekerja di Jakarta. Apakah tidak sebaliknya kita kembali berdomisili ke pusat kota dan melakukan semua aktivitas di sini. Kalau harga rumah belum terjangkau, berdiam di apartemen malah lebih baik. Di Jakarta sangat banyak terdapat apartemen dgn harga terjangkau golongan menengah ke bawah.

Jika tetap hendak berdomisili suburb jakarta, tetapi bekerja di pusat kota Jakarta, silahkan saja, tetapi apakah memang harus demikian. Jika berduit, bahan bakar memang dgn mudah dibeli. kenderaan biasa diraih, demikian pula sopir bisa dipekerjakan dgn mudah. Namun, marilah kita berhitung, berapa banyak bahan bakar terbuang percuma, terutama ketika terjadi kemacetan total?

Ketika dunia sangat prihatin dgn masalah energi, apakah pantas kalau kita membuang energi secara percuma hanya karena masalah ego tinggal di suburb Jakarta. Berapa jam waktu produktif terbuang karena kita sibuk melewati kawasan macet. Berapa juta ton karbon dioksida kita hasilkan dari setiap perjalanan di tengah tautan kemacetan di seluruh jalan DKI Jakarta. Berapa panjang jalan baru harus dibangun, berapa luas ruang terbuka hijau dipunahkan, berapa banyak aspal atau semen harus digunakan untuk kepentingan ini?

Untuk mengokohkan pandangan ini, sempatkanlah datang ke kawasan jalur perbatasan. Di situ akan tampak betapa deras arus kendaraan dari suburb Jakarta ke pusat kota Jakarta. Iring-iringan kendaraan mulai tampak pada pukul 04.30 dan memuncak pada pukul 06.30-10.00. Warga rela menempuh perjalanan tiga sampai empat jam utk tiba di kantor. Ini memang sangat absurb.

Hati ini juga terenyuh kalau di jalan raya, anak-anak sekolah dan bahkan ibunya makan pagi di mobil karena tidak sempat makan di rumah. Mereka bergegas berangkat karena takut terlambat tiba di sekolah. Darah kita kerap berdesir menyaksikan pria atau wanita mengendarai sepeda motor dengan kecepatan 90 km sampai 110 km per jam agar dapat tepat waktu tiba di tempat tujuan. Mereka ngebut, dan menghasilkan suara yg memekakkan kuping.

DKI Jakarta memang kota yg sangat keras. Akan tetapi apakah kita memang harus hidup sekeras itu? Di pusat kota terdapat rumah layak huni, dengan harga sebanding dengan suburb jakarta, mengapa tidak mempertimbangkan untuk berdomisili di DKI Jakarta saja?[-O-]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar