Tampilkan postingan dengan label Sketsa Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sketsa Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Maret 2011

Cibubur, Kota Tanpa Rencana

Jika ingin mengamati semrawutnya tata kota Jakarta dan sekitarnya, datanglah ke Cibubur. Kawasan yg mekar di wilayah pertemuan antara Jakarta Timur, Bekasi, Depok dan Bogor itu kini dirundung berbaai soal : macet, sesak, kisruh, juga ancaman banjir. bagaimana semua itu bermula?

Masyarakat Jakarta biasa mengunjungi Cibubur lewat jalan Tol Jagorawi. Begitu keluar dari pintu tol (dgn tanda nama "Cibubur, Cikeas, Cileungsi"), kita disergap berbagai bangunan yg seolah ditumplekkan begitu saja.

Di kiri jalan Buperta berdiri patung tunas kelapa sebagai ikon Bumi Perkemahan Pramuka. Patung kusam itu tampak tenggelam dibandingkan dgn label mentereng logo "M" kuning McDonald dan logo merah hitam Pizza hut. Tak jauh dari situ berdiri stasiun pengisian bahan bakar Pertamina, Telaga Seafood restauran, dan toko 24 jam circle K.

Kesemrawutan berlanjut di jalan alternatif trans Yogie, jalan tembus Cibubur-Cileungsi-Jonggol-Cianjur hingga Bandung. Pada kiri jalan kita temukan Restoran Kabayan dan Hanamasa, Rumah makan Khas Sunda Cibluk, Gado-Gado Boplo, dan Klinik Prodia. di kiri jalan tampak baby dan child Clinic 24 Hours dan Cibubur Point Automotif Center.
Memasuki wilayah kota Depok lalu Bogor, kita bakal dikejutkan dgn puluhan rumah yg berjejer di kanan-kiri jalan. Sebagian nama menyematkan nama dalam bahasa asing. Sebut saja Mahogany Residence, Raffles Hills, Taman Laguna, Kranggan Permai, Nusa Dua Citra Gran, Legenda Wisata,Kota Wisata, Cibubur Residence, dan Citra Gran. Puluhan spanduk iklan perumahan riuh rendah melintand di atas jalan.
Tentu saja ada pusat perbelanjaan dan ruko di sana-sini. Ada Cibubur point, Plaza Cibubur, Cibubur Times Square, dan Mal Ciputra Gran. Di sebrang jalan Tol ada Cibubur Junction yg nongkrong dgn gagah di tikungan dekat pertigaan jalan Taman Bunga.
Daftar jejalan bangunan itu bisa diperpanjang. Kita bisa menyertakan rumah sakit, sekolah internasional, sarana olah raga seperti golf dan pusat kebugaran, atau rumah makan. Semuanya berkerumun di kawasan sekitar Tol Cibubur, kemudian melebar di wilayah sekitar.

Macet
Apa yg dinikmati warga dari pemekaran kota yg menggerombol itu? “Cibubur jadi ramai. Mencari apa-apa mudah,” kata Jajat Sudrajat (48), warga yg tinggal di Cibubur sejak tahun 1985. Sayang, keramaian itu harus dibayar dgn masalah lain. Pertumbuhan kota yg serampangan membuat Cibubur sesak. Situasi semakin parah karena kepadatan itu tak diimbangi sarana transportasi.
Akses utama ke Jakarta hanya lewat jalan Tol Jagorawi atau tembusan Tol Jatiasih menuju Jalan TB Simatupang. Padahal, sebagian besar warga di sana bekerja di Jakarta. Populasinya juga terus membengkak seiring dgn pertambahan perumahan.
Menurut Pratomo, pemilik media komunitas cibubur.com, kini ada 25-an kompleks perumahan dgn total penghuni 30.000-an keluarga. Dgn akses utama jalan Tol, setiap keluarga didorong punya mobil pribadi. “Jika setiap rumah punya satu mobil, jumlahnya bisa 30.000-an unit. Itu belum mencakup warga di perkampungan dan perusahaan,” katanya. Akibatnya bisa diduga: kemacetan lalu lintas mendera setiap jam berangkat kerja pagi dan jam pulang sore hari. Titik macet menyebar di sekitar Jalan Buperta, Jalan Trans Yogie, Jalan Taman Bunga, bahkan hingga ke Jalan Raya Bogor.
Kemacetan menjadi-jadi pada akhir pecan. Setiap Sabtu dan Minggu jalanan disesaki kendaraan menuju tempat wisata dan mal. Bus-bus besar dari luar kota Jakarta juga sering memperparah situasi.
Gembong Arifin (35), pengurus peralatan studio personel God Bless Ian Antono, mengungkapkan, dia kerap terjebak macet pada Sabtu-Minggu. Ruas jalan dari rumahnya di perumahan Villa Cibubur Indah ke pintu tol yg sepanjang 1,5-an kilometer harus ditempuh sampai satu jam. "Itu siksaan luar biasa," ujarnya.
Hingga kini para pengembang masih memburu lahan perumahan. Harga tanah melonjak. "Cibubur masih dilirik pengembang dan konsumen. Muncul pula citra elit setelah Presiden SBY menggunakan jalan alternatif Cibubur menunju rumahnya di Cikeas," kata Fuad Zakaria, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia.
Geliat kota ini menggerogoti kawasan hijau. Lahan serapan air dan penghijauan, seperti kebun, sawah, setu, atau empang, digaak demi menancapkan beton-beton mal, ruko, atau perumahan. Citra Cibubur tempo dulu yg asri dan sejuk berangsur menjadi sesak dan mulai panas. "Dulu kami tidur pakai selimut, sekarang malah harus pakai AC," kata Arief Bagus (30), warga Cibubur.
Masalah lain, muncul ancaman banjir, Syarif (37), warga yg tinggal sejak kecil di Jalan Lapangan Tembak, Kelurahan Cibubur, bercerita, "kalau musim hujan, jalan di sini banjir sampai tdk bisa dilalui kendaraan. Gorong-gorong yg ada di depan pasar terlalu kecil.
Berbagai persoalan itu memaksa sebagian warga berpikir ulang utk menetap di sana. Andong begawan dan orangtuanya yg tinggal di Jalan Lapangan Tembak sejak tahun 1970-an, misalnya, menjual rumah dan pindah ke Sawangan, Depok. "Kami tak tahan lagi dgn macet, debu, dan hiruk pikuk," katanya.

Tanpa Rencana
Apakah akar dari semua masalah itu? "Cibubur menggambarkan fenomena urban sprawl (pemekaran kota) tanpa rencana," papar pengamat tata kota dari Univ Trisakti Jakarta, Yayat Supriatna. Rencana Umum Tata Ruang Jakarta Tahun 1985-2005, menurut Yayat, memasukkan Cibubur dalam zona konservasi., pertanian, resapan air, dan sedikit hunian. Namun, ketika meletup booming ekonomi tahun 1990-an, muncul hasrat mengubah Cibubur menjadi kota baru. Itu selaras dgn pernah munculnya rencana pemindahan sebagian Ibu kota ke Jonggol yg berbatasan dgn Cibubur.
Saat pembangunan menggeliat, tiba-tiba rencana umum tata ruang tahun 2000-2010 mengubah Cibubur menjadi pemukiman dgn tingkat kepadatan rendah. Maksudnya, perumahan diijinkan, tapi dalam skala kecil dan berhalaman luas. Tujuannya agar tetap ada lahan terbuka. Sayang rencana itu kandas dilibas hasrat para pemilik modal membangun perumahan besar-besaran. Ini memicu munculnya berbagai kegiatan komersial lain. Pasar mengendalikan semuanya. Parahnya, tdk ada antisipasi transport massal di Jakarta.
"Cibubur jadi acak-acakan. Mari kita nikmati bermacam masalah," kata Yayat. Adakah jalan keluar? "Ada. Lakukan moratorium alias penghentian sementara, bikin dulu rencana tata kota yg jelas dan rinci, lalu semua perizinan pembangunan mengacu pd rencana itu. Jangan seenaknya pasar saja yg atur," tandas Yayat.[-O-]

Sabtu, 17 April 2010

Sekali Lagi Tentang Permukiman di Pusat Kota

Sepekan ini hujan lebat kerap turun di ibu kota dan sekitarnya. Persoalan yg datang sama seperti tahun-tahun yg lalu : banjir, jalan macet total, warga berkeluh kesah sebab terlambat tiba di tempat tujuan. Para pengendara sepeda motor berteduh di bawah jalan laying, pendapatan angkot berkurang, biaya transportasi melonjak dan sebagainya.

Dalam situasi seperti itu, alangkah eloknya jika kita tidak saling menyalahkan. Kita menghadapi banjir dan kemacetan dengan pikiran sejuk sambil mencari jalan keluar yg menarik. Formula paling elegan kiranya adalah mengurangi perjalanan, memotong jarak tujuan, mengurangi pemakaian kendaraan pribadi sambil menggunakan angkutan umum.

Kiat lain, berdomisili di kawasan superblok agar jika hendak ke lokasi tujuan cukup berjalan kaki atau bersepeda. Mengurangi perjalanan di sini dimaknakan pula sebagai ” tidak perlu keluar kantor atau rumah” kalau memang tak perlu. Efisiensi perjalanan bisa pula diartikan, pekerjaan rumah cukup dikerjakan di rumah, tidak perlu di gedung tinggi atau di mal. Atau kalau ke mal hanya sekedar ngadem, atau ngumpul apa tidak sebaiknya beraktivitas di rumah atau di kantor?

Sudah lebih 20 tahun ajakan agar publik yg bekerja di ibu kota sebaiknya berdomisili di superblok dikumandangkan. Akan tetapi tidak banyak yg tertarik melakukannya. Masyarakat selalu terbelengu oleh asumsi bahwa harga rumah di pusat kota Jakarta jauh lebih mahal dibanding pinggiran kota. Berangkat dari asumsi itu, banyak pekerja di Jakarta memilih berdiam di suburb Jakarta.

Akan tetapi sudah bertahun-tahun pula asumsi ini dipatahkan dengan data bahwa rumah di Jakarta lebih kurang sama saja dgn harga tanah di tepian kota. Masyarakat Indonesia sdh amat lama diganduli pandangan bahwa harga rumah di pusat kota DKI Jakarta jauh lebih mahal, polusif dan tetangganya tidak ramah. Masyarakat diberi kesan seram bahwa hanya ”orang berduit” yg bisa berdiam di Jakarta. Tentu tidak semua pandangan ini benar.

Dalam era lalu lintas makin macet dan banjir makin sulit ditangani tuntas, apa tidak sebaiknya kalau kita menanggalkan keinginan tentang hunian di tepi kota, tetapi bekerja di Jakarta. Apakah tidak sebaliknya kita kembali berdomisili ke pusat kota dan melakukan semua aktivitas di sini. Kalau harga rumah belum terjangkau, berdiam di apartemen malah lebih baik. Di Jakarta sangat banyak terdapat apartemen dgn harga terjangkau golongan menengah ke bawah.

Jika tetap hendak berdomisili suburb jakarta, tetapi bekerja di pusat kota Jakarta, silahkan saja, tetapi apakah memang harus demikian. Jika berduit, bahan bakar memang dgn mudah dibeli. kenderaan biasa diraih, demikian pula sopir bisa dipekerjakan dgn mudah. Namun, marilah kita berhitung, berapa banyak bahan bakar terbuang percuma, terutama ketika terjadi kemacetan total?

Ketika dunia sangat prihatin dgn masalah energi, apakah pantas kalau kita membuang energi secara percuma hanya karena masalah ego tinggal di suburb Jakarta. Berapa jam waktu produktif terbuang karena kita sibuk melewati kawasan macet. Berapa juta ton karbon dioksida kita hasilkan dari setiap perjalanan di tengah tautan kemacetan di seluruh jalan DKI Jakarta. Berapa panjang jalan baru harus dibangun, berapa luas ruang terbuka hijau dipunahkan, berapa banyak aspal atau semen harus digunakan untuk kepentingan ini?

Untuk mengokohkan pandangan ini, sempatkanlah datang ke kawasan jalur perbatasan. Di situ akan tampak betapa deras arus kendaraan dari suburb Jakarta ke pusat kota Jakarta. Iring-iringan kendaraan mulai tampak pada pukul 04.30 dan memuncak pada pukul 06.30-10.00. Warga rela menempuh perjalanan tiga sampai empat jam utk tiba di kantor. Ini memang sangat absurb.

Hati ini juga terenyuh kalau di jalan raya, anak-anak sekolah dan bahkan ibunya makan pagi di mobil karena tidak sempat makan di rumah. Mereka bergegas berangkat karena takut terlambat tiba di sekolah. Darah kita kerap berdesir menyaksikan pria atau wanita mengendarai sepeda motor dengan kecepatan 90 km sampai 110 km per jam agar dapat tepat waktu tiba di tempat tujuan. Mereka ngebut, dan menghasilkan suara yg memekakkan kuping.

DKI Jakarta memang kota yg sangat keras. Akan tetapi apakah kita memang harus hidup sekeras itu? Di pusat kota terdapat rumah layak huni, dengan harga sebanding dengan suburb jakarta, mengapa tidak mempertimbangkan untuk berdomisili di DKI Jakarta saja?[-O-]

Jumat, 12 Februari 2010

Mengoptimalkan Kesegaran Ruangan

Selain menjadi tempat berteduh, sebuah rumah hendaknya menjadi tempat yg nyaman untuk dihuni. Apalagi bagi mereka yg setiap hari dihadapkan pada rutinitas, tumpukan pekerjaan, dan kepadatan lalu lintas, tentu mengharapkan sebuah tempat yg mampu memberi ketenangan. Sebagai tempat untuk beristirahat, dan melepas penat, atau untuk sejenak “lari” dari hiruk pikuk, sebuah ruangan sejatinya didesain dan ditata dgn apik. Tidak perlu dengan barang-barang yg mahal, asalkan rapid an bersih, ruangan tersebut tentu akan nyaman untuk ditempati.

Demikian pula dengan pencahayaan agar diatur sedemikian rupa sehingga tidak terlampau gelap atau terang. Dan jika memungkinkan, ruangan tersebut memiliki jendela yg cukup menerangi ruangan saat siang hari. Disamping dapat menekan pengeluaran untuk tagihan listrik, hal tersebut ditunjukkan pula agar udara dalam ruangan dapat bersikulasi.

Akan halnya dgn kesejukan yg dapat mendukung kenyamanan sebuah ruangan. Untuk mencapai hal yg satu ini, orang kerap menggunakan penyejuk udara (AC) yg kini tersedia dalam berbagai merek, model dan rentang harga yg variatif. Di satu sisi, hal tsb menguntungkan konsumen karena ada begitu banyak pilihan produk AC sehingga dapat leluasa dalam mencari perangkat yg paling pas di hati. Namun di sisi lain, konsumen harus memutar otak berulang kali karena masing-masing AC tentu memberi nilai tambah tersendiri. Salah satu yg patut dilirik adalah AC Sharp dgn seri standard Deluxe. Fitur-fitur utama yg ada pada perangkat ini adalah powerful Jetstrem yg akan membuat ruangan sejuk dgn segera, serta “Coanda” Gentle Cool Air New yg memungkinkan AC mengarahkan udara dingin ke atas sehingga hawa dingin tak langsung mengenai penghuni ruangan.

Sementara fitur lain yg tak kalah menarik adalah tegangan rendah (150 Volt), anti-rust evavorator, serta auto-restart function untuk mendukung kemudahan dan kenyamanan. Dengan demikian, AC yg tersedia mulai dari ½ PK, 3/4 PK dan 1 PK ini patut dimasukkan dalam daftar pilihan bukan?[-O-]

Rabu, 10 Februari 2010

Mereka Berjuang Mencari Alur Dalam

Bendera merah putih kecil di atas perahu dagang rute Palangkaraya-Gunung Mas yg tertambat di dermaga Flamboyan , Kecamatan Pahandut, Kota Palangkaraya, Kalimantan tengah, itu seperti terkulai, tak lagi berkibar sebagaimana saat melaju memecah riak Sungai Kahayan. Sejak pertengahan Juli hingga menjelang HUT ke-64 RI ini, aktifitas angkutan perahu dagang di rute tersebut lumpuh akibat surutnya sungai kahayan. Kedalaman air di beberapa lokasi Cuma sekitar 1 meter. Kapal-kapal sungai yg mengangkut barang hingga 5 ton praktis tdk bias melewatinya.
Hingga Rabu (12/8), Dermaga Flamboyan yg merupakan tempat bongkar muat barang dengan rute ke hulu atau pedalaman gunung Mas tsb pun lengang. Hanya kapal dagang Rute Palangkaraya ke Bahaur, Kabupaten Pulang Pisau, dan ke danau Panggang, Kalimantan Selatan, yg berlayar lewat pelabuhan Rambang. Rute ke arah Hilir Kahayan itu masih sanggup dilayani karena terbantu arus pasang surut dari Laut Jawa. ”Namun, kami pun harus pandai mencari celah alur yg dalam agar kapal tidak kandas menabrak gosong (pulau yg timbul disaat air surut),” kata Udin, awak kapal perahu rute Bahaur.
Upaya mandiri pemilik dan awak kapal ini harus dilakukan di tengah belum adanya solusi untuk mengatasi surutnya Kahayan. Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kalteng Rigumi mengakui saat ini belum ada program pengerukan Sungai di Kahayan. ”Yang ada adalah pengerukan alur pelayaran, itu pun di sungai yg ada pelabuhan lautnya, seperti di alur Barito, Banjarmasin. Selain itu juga di Mentaya (Kabupaten Kota Waringin Timur) dan Kumai (kota Waringin Barat) yg sudah kami usulkan tahun ini,” kata Rigumi.

Beruntung, di rute Palangkaraya yg dilayari Udin masih ada alur dalam. Lain halnya dengan angkutan rute ke arah hulu yg saat ini terpaksa berhenti beroperasi karena dangkalnya alur, seperti di sekitar Sepang Simin, Kabupaten Gunung Mas. Kepala lalu lintas Angkutan Sungai, Danau, dan Penyebrangan (LLASDP) Pelabuhan Flamboyan Rustandi menuturkan, banyak perahu dagang rute ke Gunung Mas beralih ke Banjarmasin.

Tersisa 29 Kapal

Sementara itu, sejumlah pedagang yg juga memiliki truk mengoperasikan kendaraannya itu untuk mengangkut barang melalui jaringan jalan Palangkaraya-Kualakurun, ibukota Kabupaten Gunung Mas. Surutnya sungai Kahayan otomatis mengurangi jumlah kapal dagang yg beroperasi. Kepala LLASDP Pelabuhan Rambang Budiono Amat mengatakan, saat ini jumlah kapal dagang yg beroperasi tersisa 29 unit dari total 293 kapal yg dagang yg tercatat di Dermaga Rambang.

Kepala Pusat Penelitian Lingkungan hidup Universitas Palangkaraya Andrie Ellia menjelaskan, surutnya sungai terjadi karena pemanasan global. Penyebab lain rusaknya daerah tangkapan air di daerah hulu sehingga tdk ada lagi yg mampu menahan air. Akibatnya, pada musim hijan air sungai meluap hingga menimbulkan banjir dan sebaliknya pada musim kemarau air sungai pun cepat surut.

Adapun sempadan sungai yg rusak karena digunakan untuk berbagai peruntukan, seperti permukiman atau ditambang, mendorong terjadinya erosi yg mengakibatkan pendangkalan sungai,“ ujar Andrie. Menurut dia, rehabilitasi daerah tangkapan air dan sempadan merupakan solusi utk mengembalikan lagi fungsi hidrologis kawasan.[-O-]