Sdh jatuh ketimpa tangga, sdh miskin ditabrak pula. Itulah yg dialami Kliwon, 45, penduduk Jalan Kala Putri Dusun III Air Tawar Dalam, Kecamatan Gebang, Langkat, kritis ditabrak mobil sedan di Jalan Besar-Medan simpang utama Brandan, Sabtu (29/7) sekitar pukul 05.00 WIB.
Dengan penuh kesedihan
Dengan penuh kesedihan, Mayani, 30, istri korban kpd ZP di ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat) RSU Dr. Pirngadi Medan menuturkan, selama ini penghasilan suaminya sbg pedagang hanya tergolong pas-pasan. Sebab, kelapa yg dijual suaminya, dibeli dari warga selanjutnya dijual ke pajak Brandan. Tak heran, akibat musibah yg menimpa suaminya itu, Mayani bingung dgn beban moril yg dihadapinya termasuk menanggulangi biaya perobatan suami dan menghidupi lima anaknya. Menurut keterangan, subuh itu dgn cuaca dingin, sepeda motor Yamaha bebek yg dipakai korban mengangkut kelapa, mulai melaju dan saling berpapasan dgn temannya dijalanan sembari iring-iringan menuju tempat penolakan kelapa di Pajak Brandan. Namun, dasar apes, saat korban melintasi lokasi kejadian, tiba-tiba mobil sedan berwarna hijau dgn kecepatan tinggi datang dari arah Aceh sedang memotong mobil yg ada di depannya. Saat memotong itulah, mobil sedan terperogok dgn sepeda motor korban dan keduanya tak dapat mnghindar. Dengan hitungan detik akhirnya kedua kendaran itu laga kambing dgn mengakibatkan Kliwon terpental jauh. Sedangkan kelapa yg diangkutnya berserakan di jalan. Sementara mobil hijau tsb mepet ke samping kanan dan menghantam tiang listrik yg ada di seberang jalan.”Syukur mobil itu menabrak tiang listrik, kalau tidak sasarannya pasti rumah warga yg ada di pinggir jalan itu,” ujar istrinya. Irfan, keponakan korban menambahkan, saat kejadian itu korban ditolong oleh temannya dan langsung membawa korban ke RS Pertamina Brandan utk pertolongan medis. Karena kondisi korban cukup serius, pihak rumah sakit merujuk korban ke RSU Dr. Pirngadi Medan dan tiba di ruang IGD sekitar pukul 12.00 WIB. Pantauan ZP di Ruang IGD, oleh dokter dan perawat, korban langsung ditangani secara intensif. Akibat tabrakan itu, korban mengalami pendarahan dibagian dalam akibat terkena benturan serius di bagian perutnya, kening sobek sepuluh jahitan, mulut serta hidung mengeluarkan darah, kedua tulang paha patah dan tubuh penuh dgn luka lecet. Informasi yg diperoleh, korban selanjutnya menjalani operasi dibagian perut hari itu juga. Saat ini, korban sedang menjalani perawatan di Ruang ICU Lantai IV RSU Dr Pirngadi Medan.[-O-]
Dengan laporan harian ini, Senin (19/7), apa yg sdh lama kita amati, dan semakin kuat kita rasakan akhir-akhir ini, mendpt penegasan.
Hal yg kita soroti ini adalah kemacetan lalu lintas di Jakarta. Kita juga mengangkat ini dgn bayangan sejumlah kota lain punya potensi problem yg sama Kesan umum kita akhir-akhir ini adalah Jakarta semakin macet. Ditambah dgn cara mengemudi yg cenderung tdk tertib, kemacetan berubah menjadi kesemrawutan. Pada saat macet, yg ada bukan antre secara tertib, tetapi malah upaya menyerobot.
Namun, diluar perilaku berkendara, secara substansial juga ada situasi yg memang mau tak mau membuat jalanan macet, dan itu tdk lain adalah jumlah kendaraan bermotor yg melebihi kapasitas jalan utk menampungnya. Seperti kita baca di harian ini kemarin, pertumbuhan jumlah kendaraan sebesar 8 persen per tahun, sementara pertumbuhan luas jalan hanya 0,01 persen per tahun. Sungguh perbandingan yg amat tdk seimbang.
Yg lebih buruk lg, industri otomotif-yg tdk kita miliki sendiri-terus meningkatkan target penjualan. Utk DKI Jakarta saja, angka pertambahan mobil per hari 186 unit dan utk motor 986 unit.
Ditambah dgn rentetan kesalahan kita dlm merancang kota, kemacetan total atau stagnasi lalu lintas kini sdh mulai membayang. Jika semua keadaan seperti itu diramalkan akan terjadi pd tahun 2015, kini hal itu diperkirakan akan terjadi lebih cepat, yakni tahun 2012.
Pengamat transportasi Fransiskus Trisbiantara dari Universitas Trisakti menyebutkan, tanda-tanda kemacetan total sudah muai diamati tahun ini. Misalnya, waktu tempuh menuju satu tujuan bertambah lama, perempatan jalan semakin sulit menampung kendaraan pd jam sibuk, dan kemacetan merambah ke waktu di luar jam sibuk.
Gejala di atas sebagian merupakan akibat dari kesalahan yg kita buat sendiri. Misalnya saja mendirikan gedung perkantoran, mal, atau apartemen di dekat persimpangan jalan utama. Membuat gerbang tol di dekat simpul lalu lintas, seperti di dekat Semanggi.
Perkembangan ini sungguh menyedihkan. Pertama, reputasi kita, juga reputasi yg mengaku diri ahli, jatuh karena-blak-blakan saja-tdk becus mengelola lalu lintas. Kita tahu, betapa masyarakat menderita rugi baik dari sisi waktu maupun bahan bakar, yg juga berdampak terhadap suasana kejiwaan yg jadi sering jengkel karena macet. Produktivitas hilang, sementara pemborosan bahan bakar menambah buruk polusi udara. Simpati kita bagi para pekerja yg setiap hari harus bekerja di tengah jalan yg udaranya amat berdebu penuh polutan.
Solusi ada, tetapi amat membutuhkan ketegasan sikap pemimpin dan komitmen pembiayaan. Namun, itu hal niscaya, yg kalau tidak kita tunaikan hari ini, hutang kesalahan itu akan terus berbunga di esok hari. Ayo, bertindaklah drastis sekarang![-O-]
Matahari telah kembali ke peraduannya dan tanda waktu menunjukkan pukul 18.00. Sebuah mobil berwarna biru berhenti. Ketika pintunya dibuka, yg disusul dgn keluarnya sesosok laki-laki berpeci hitam dan bersandal jepit, tepuk tangan pun membahana. Kerumunan warga yg mengelilingi laki-laki bernama Lanjar Sriyanto (36) itu tersibak saat seorang bocah berkaus merah bergambar naga, datang menghampiri. Spontan sang bocah, Samto Waluyo (10) melompat ke gendongan Lanjar, sambil berteriak, “Bapak”….
Tangis haru mengiringi pertemuan ayah dan anak yg lebih dari sebulan tidak bertemu itu. Mata puluhan warga Rt 3, Rw 6, kampong Jajar, Lawean, Solo, Jawa Tengah yg hadir tampak berkaca-kaca, terutama saat mereka mengantar Lanjar dan Warih masuk ke rumah kontrakan mereka.
Penangguhan
Lanjar dikeluarkan dari tahanan setelah permohonan penangguhan tahanannya dikabulkan mejelis hakim yg dipimpin Demon Sembiring. Hal itu disampaikan seusai persidangan di Pengadilan Negri Karanganyar, di Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (14/1). Syaratnya, Lanjar wajib lapor ke Pengadilan Negri Karanganyar sekali sepekan.
Ironisnya, awalnya Lanjar tidak memahami arti penangguhan penahanan. Wajahnya datar saja saat hakim mengumumkan pengabulan permohonan yg disampaikan tim penasihat hukumnya, Muhammad Taufiq, Budhi Kuswanto, dan Yossy Eka. Lanjar yg buta hukum baru mengerti istilah itu setelah diberi penjelasan oleelah budhi. ”Syukur Alhamdulillah, saya senang bisa keluar dari tahanan. Saya berterima kasih utk semua orang yg telah membantu saya.,“katanya lirih.
Anaknya semata wayang, Warih, yg biasanya sangat tertutup dan pelit bicara,sambil tersenyum mengatakan senang bisa bertemu kembali dgn ayahnya. Ia berjanji akan bersekolah pada Jumat ini. Kemarin Lanjar sempat menunjukkan kebingungan ketika diberitahu anaknya baru-baru ini mogok sekolah setelah mendengar dirinya ditahan. Wajahnya pucat dan mengatakan tdk tahu harus berkata apa sat ditemui dibalik jeruji sebelum siding dilangsungkan.
Lanjar pamit kepada Warih akan pergi cukup lama utk bekerja. Permainan Play Station pun akhirnya menjadi teman Warih sehari-hari setelah Lanjar ditahan pd 9 Desember lalu dan ibunya telah tiada akibat kecelakaan yg berujung pd penyidangan Lanjar. Saat Warih mogok sekolah, guru dan teman-temannya bergantian datang menemaninya. Kepalah Sekolah Dasar Karangasem 3 Sri Purwaningtyas, misalnya, datang 2-3 kali sehari utk mendongeng atau mengajak bocah itu mengobrol. Teman-teman sekolahnya menemani bermain atau mengajak belajar berkelompok. Purwaningtyas mengaku, dia juga sdh meminta psikolog Maya Savitri utk memberi masukan tentang perlakuan terbaik bagi Warih.
Lanjar mengaku sangat bersyukur telah menjadi tahanan luar. Meski masih akan menjalani sidang-sidang yg bisa berlangsung berbulan-bulan, Lanjar mengaku, dengan status barunya itu, dia tetap bisa menemani dan merawat anaknya.
Kisah pertemuan ayah dan anak itu kemarin berawal dari kecelakaan pada 21 September 2009, atau hari kedua Lebaran. Saat itu sepeda motor yg ditumpangi Lanjar, Saptaningsih dan Warih terjatuh dalam perjalanan pulang dari Bayolali, rumah orang tua Saptaningsih. Di jalan Adisucipto, Colomadu, Karanganyar, motor mereka menabrak mobil Suzuki Carry yg berada di depannya. Sapta dan Warih terpental. Saat bersaman, dari arah berlawanan, mobil Isuzu Panther datang dan langsung menghantam Saptaningsih hingga tewas.
Terkait insiden itu, polisi menetapkan Lanjar sbg tersangka. Ia dinilai lalai sehingga menyebabkan tewasnya Saptaningsih. Sementara sopir Isuzu Panther hanya ditetapkan sbg saksi. Komitmen Jaksa, Hakim dan penasihat hokum tengah diuji untuk mempormulasikan keadilan.[-O-]