Dengan laporan harian ini, Senin (19/7), apa yg sdh lama kita amati, dan semakin kuat kita rasakan akhir-akhir ini, mendpt penegasan.
Hal yg kita soroti ini adalah kemacetan lalu lintas di Jakarta. Kita juga mengangkat ini dgn bayangan sejumlah kota lain punya potensi problem yg sama Kesan umum kita akhir-akhir ini adalah Jakarta semakin macet. Ditambah dgn cara mengemudi yg cenderung tdk tertib, kemacetan berubah menjadi kesemrawutan. Pada saat macet, yg ada bukan antre secara tertib, tetapi malah upaya menyerobot.
Namun, diluar perilaku berkendara, secara substansial juga ada situasi yg memang mau tak mau membuat jalanan macet, dan itu tdk lain adalah jumlah kendaraan bermotor yg melebihi kapasitas jalan utk menampungnya. Seperti kita baca di harian ini kemarin, pertumbuhan jumlah kendaraan sebesar 8 persen per tahun, sementara pertumbuhan luas jalan hanya 0,01 persen per tahun. Sungguh perbandingan yg amat tdk seimbang.
Yg lebih buruk lg, industri otomotif-yg tdk kita miliki sendiri-terus meningkatkan target penjualan. Utk DKI Jakarta saja, angka pertambahan mobil per hari 186 unit dan utk motor 986 unit.
Ditambah dgn rentetan kesalahan kita dlm merancang kota, kemacetan total atau stagnasi lalu lintas kini sdh mulai membayang. Jika semua keadaan seperti itu diramalkan akan terjadi pd tahun 2015, kini hal itu diperkirakan akan terjadi lebih cepat, yakni tahun 2012.
Pengamat transportasi Fransiskus Trisbiantara dari Universitas Trisakti menyebutkan, tanda-tanda kemacetan total sudah muai diamati tahun ini. Misalnya, waktu tempuh menuju satu tujuan bertambah lama, perempatan jalan semakin sulit menampung kendaraan pd jam sibuk, dan kemacetan merambah ke waktu di luar jam sibuk.
Gejala di atas sebagian merupakan akibat dari kesalahan yg kita buat sendiri. Misalnya saja mendirikan gedung perkantoran, mal, atau apartemen di dekat persimpangan jalan utama. Membuat gerbang tol di dekat simpul lalu lintas, seperti di dekat Semanggi.
Perkembangan ini sungguh menyedihkan. Pertama, reputasi kita, juga reputasi yg mengaku diri ahli, jatuh karena-blak-blakan saja-tdk becus mengelola lalu lintas. Kita tahu, betapa masyarakat menderita rugi baik dari sisi waktu maupun bahan bakar, yg juga berdampak terhadap suasana kejiwaan yg jadi sering jengkel karena macet. Produktivitas hilang, sementara pemborosan bahan bakar menambah buruk polusi udara. Simpati kita bagi para pekerja yg setiap hari harus bekerja di tengah jalan yg udaranya amat berdebu penuh polutan.
Solusi ada, tetapi amat membutuhkan ketegasan sikap pemimpin dan komitmen pembiayaan. Namun, itu hal niscaya, yg kalau tidak kita tunaikan hari ini, hutang kesalahan itu akan terus berbunga di esok hari. Ayo, bertindaklah drastis sekarang![-O-]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar