Kamis, 05 Agustus 2010

Beravontur Dengan Jiwa Belanja

Setiap individu adalah pribadi yg unik. Masing-masing bebas mengekspresikan diri dan karakternya senyaman mungkin. Sangking uniknya, kadang bisa membuat orang lain yg melihat menggelengkan kepala, mencopa memahami bagaimana sebuah hobi bisa membawa diri berkelana dari satu tempat ke tempat lain.

BUKAN hanya menulis yg bisa demikian. Tengok saja mereka yg begitu gandrung dgn dunia sepak bola. Begitu ada dana lebih, tentu akan lebih memuaskan bagi mereka jika menonton klub kesayangan secara langsung di kandangnya ketimbang dari layar kaca.

Demikian pula yg terjadi pd yg punya hobi berburu koleksi fesyen terbaru, barang-barang antik, atau keperluan lainnya. Mereka tak segan-segan mengarungi ribuan kilometer demi mendapatkannya atau menjadi yg pertama memperoleh koleksi tsb.

Sadar akan potensi yg satu ini, bnyk negara pun berlomba-lomba mengadakan pekan belanja yg menawarkan berbagai kelebihan dan keuntungan bagi para shopaholic. Seperti yg sdh diprediksikan, pekan belanja tsb mampu menyedot para penggila belanja dari negara-negara tetangga lainnya sehingga wisata belanja pun menjadi ladang baru bagi industri pariwisata.


Wisata Belanja Indonesia.
Masyarakat Indonesia sendiri sudah sangat dikenal dgn kegemarannya berbelanja. Hal ini seolah sudah menjadi “rahasia umum” bagi para pengelola wisata di Negara-negara yg kerap mendapat kunjungan dari wisatawan Indonesia.
Beranvontur tanpa belanja, ibarat makan sayur tanpa garam. Makanya, belanja selalu jadi kegiatan rutin yg tak boleh luput dari bagian acara inti.
Di satu sisi, bukan Cuma Hongkong, Paris, atau Bangkok saja yg kini dicari orang untuk berbelanja, karena Jakartapun telah masuk dalam deretan destinasi utk berwisata belanja.
Tidak sedikit wisatawan manca negara (Wisman) yg bertandang ke sini, khusus utk memuaskan hasrat berbelanja. Bagi para shopaholic, Indonesia memang boleh jadi surga yg tepat utk memuaskan hobi yg kerap menguras isi kantong itu.
Betapa tidak, beragam barang bisa dicari dari yg harga super murah hingga barang-barang bermerek asli. Dari yg buatan pabrikasi modren hingga kerajinan tangan yg memperlihatkan tingkat kesulitan tinggi dan merupakan bagian dari warisan budaya leluhur. Tentu saja, yg terakhir ini punya nilai lebih dari sekadar nilai nominal yg tertera.

Menggila di Jakarta
Posisi Indonesia di mata penggila belanja memang semakin bersinar, khususnya di Jakarta. Hal ini tidaklah mengherankan, mengingat ada 75 shopping mall yg tersebar di seluruh Jakarta dan masing-masing mal menawarkan sentuhan tersendiri dalam berbelanja.
Arie Budiman, Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, mengatakan bahwa harga yg ditawarkan di Jakarta sangat bersaing dgn kota-kota besar di kawasan Asia. Berbagai produk pun dpt ditemui, mulai dari fesyen bermerek yg yg dibanderol dgn harga tinggi hingga koleksi yg dijajakan dgn harga sangat murah.

Masing-masing memang utk membidik segmen tersendiri. Utk pasar Asia yg ditonjolkan adalah pusat perbelanjaan di Mangga Dua dan Tanah Abang. Sementara Pasar Timur Tengah biasanya mengejar barang-barang bermerek dari butik-butik terkenal dan berkelas Internasional. Lain lagi dgn kebiasaan turis dari Eropa, yg lebih tertarik berbelanja beragam kerajinan tangan ketika berkunjung ke Jakarta.

Sadar akan potensi besar ini, Pemda Prov DKI Jakarta pun memberi dukungan terhadap wisata belanja Jakarta, antara lain lewat Jakarta Tourism Expo di kota-kota besar di Indonesia, mengajak Blok A Tanah Abang dan dimasukkan dalam paket wisata belanja.

Demikian pula halnya dgn Jakarta Great Sale yg dilangsungkan pd bulan Juli-Agustus 2009, PRJ, hingga berbagai event musik seperti Java Jazz, Jak Jazz, Blues Festival yg ditunjang dgn paket wisata belanja.

Baik langsung maupun tidak, hal ini semakin meningkatkan gairah pariwisata Jakarta sehingga mendorong pertumbuhan jumlah wisman maupun domestik yg berkunjung. Menurut data yg dihimpun dari dinas Pariwisata dan Kebudayaan Prov DKI Jakarta, pd thn 2008 jumlah Wisman ke Indonesia sebanyak 6.429.027 orang yg ke 23 persennya atau sebanyak 1.534.785 orang yg bertandang ke Jakarta. Sementara itu, hingga bulan September 2009, jumlah wisman telah mencapai 970.404 orang.

Bagaikan sebuah efek domino, adanya ketertarikan wisman dan domestik utk berbelanja di Jakarta bisa memberi pengaruh positif pd lini pariwisata lainnya. Dari sekedar tertarik utk berbelanja, kemudian tergoda utk menyambangi obyek-obyek wisata yg ada di Jakarta dan Indonesia secara keseluruhan.

Dengan demikian, sdh selaiknya hal ini pun mendapat perhatian dari seluruh pihak agar tak pernah berhenti mencari potensi baru utk digali.[-O-]

.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar