Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2011

Modal Nekat Tunjukkan Bakat

Acara pencarian bakat (talent show) kembali naik daun di televise. Ribuan orang yg merasa punya bakat di dunia hiburanpun turut serta. Sayangnya, sebagian hanya tampil dgn modal cekak.
Dua laki-laki berotot itu muncul di panggung. Musik berirama disko diputar dan kedua laki-laki itu membusungkan dadanya yg terbuka. Sedetik kemudian, dengan wajah bangga, keduanya menggerak-gerakkan otot dadanya sehingga tampak berdenyut-denyut. Sebagian penonton tertawa, sebagian mencemooh kecewa.
Kedua pria itu menyebut aksinya sebagai muscle dance atau tarian otot. Dengan bekal itulah, mereka berani tampil di acara pencarian bakat. Namun, mereka kurang beruntung. Juri yg tampak risih melihat tarian itu akhirnya menilai mereka tidak cukup berbakat utk masuk ke dunia hiburan.
Begitulah gambaran acara pencarian bakat Indonesia Mencari Bakat (IMB) yg Tayang di Trans TV tiap minggu malam sejak awal Maret lalu. Ini semacam tiruan dari acara America’s Got Talent (AGT) yg telah ada sejak tahun 2006 dan ditayangkan di 34 negara di seluruh dunia. Di Indonesia, AGT muncul di Indosiar sejak 16 Januari lalu dan langsung menarik perhatian penonton.
Acara pencarian bakat semacam ini tampaknya akan kian semarak. Indosiar, misalnya, sedang menyiapkan AGT versi Indonesia yg diberi nama Indonesia Got Talent. Humas Indosiar Gufroni Sakaril mengatakan, pihaknya sedang menggelar pre-casting peserta di beberapa daerah.
Global TV juga mencoba mencicipi manisnya acara talent show dgn menghadirkan kembali acara Let's Dance dalam format baru. Acara pencarian bakat di bidang tari ini sebelumnya telah ada sejak tahun 2005, tetapi sempat vakumtahun 2008. Di luar itu, masih ada acara Talent show lain yg meramaikan layar kaca, seperti Gong show (Trans TV), Mamamia, serta Indonesian Idol dan Idola Cilik.

Modal Cetak
IMB dan AGT agak berbeda dgn acara pencarian bakat lain yg umumnya terfokus dibidang tertentu, seperti menyanyidan menari. Di IMB, apapun yg dianggap sbg bakat boleh ditampilkan. Maka, ada peserta yg menari, menyanyi, main sulap, melawak, hingga sekedar mendenyut-denyutkan otot dada.
Begitu pula AGT, peserta boleh bernyanyi, menari, melawak, menirukan suara monyet dan burung, bahkan menelan pedang. Hasilnya cuma dua : ditepuki penonton dan dianggap berbakat, atau dicemooh penonton kerena aksinya dianggap konyol. Drama semacam itulah yg ditonjolkan IMB dan AGT.
Apakah pembuat acara seperti ini benar-benar mencari orang-orang berbakat? Executive Producer IMB M Ikhsan, Jumat (23/4), mengatakan, Trans TV memang berniat mencari orang berbakat di dunia hiburan yg nantinya bisa direkrut utk mengisi acara-acara TransCorp yg terdiri atas Trans TV, Trans7, dan Trans Studio.
Tidak seperti acara-acara talent show lainnya, kami memiliki media utk menyalurkan bakat-bakat peserta," kata Ikhsan. Janji inilah yg membangkitkan mimpi-mimpi dibenak ribuan peserta. Orang-orang yg merasa punya bakat pun berbondong-bondong ikut audisi. ikhsan mengatakan, di setiap kota, jumlah peserta audisi berkisar 800-1000 orang.
Jerry Gogapasha, salah seorang diantara peserta yg lolos audisi di Surabaya, berharap lewat IMB kemampuannya mengeluarkan suara perut dilirik banyak orang. Belum juga memenangi IMB, laki-laki yg berprofesi sbg penghibur pesta ini sdh mulai kebanjiran permintaan tampil. "Dulu sebulan rata-rata dapat 10 jobs. Sekarang, setelah tampil di IMB, sehari saya dapat tiga jobs," ujar Jery senang.
Ikhsan melihat banyak peserta IMB memiliki bakat di dunia hiburan. Sayangnya, mereka belum mampu mengemasnya dgn baik agar layak ditampilkan di televisi. Sebaliknya, banyak pula yg ikut IMB dgn modal cekak. Ada yg merasa jago akting lantaran bisa marah-marah. Yg seperti ini banyak sekali Saya kira, dari 10 peserta yg ikut audisi akting, 9 diantaranya berakting marah-marah, ha,....ha...ha," katanya.
Mungkin, mereka kebanyakan nonton sinetron.[-O-]

Kamis, 20 Januari 2011

Mbok Tuminem Pun mendengarkan Jazz

PEMANDANGAN tak biasa terlihat di pasar Gede Harjonagoro, Solo, Jawa Tengah, Sabtu siang. Saat itu kelompok Jazz Clorophyl dari Jakarta tampil di tengah simbok-simbok bakul di pasar Gede. Mereka tampak antusias melihat band yg pentas di antara dagangan beras, pisang, tempe, cabai dan lainnya. Di antara mereka ada Mbok Tuminem (54),penjual sate ayam ygbahkan belum pernah mendengar kata Jazz.
"Niku musik nopo to, kok dombreng-dombreng. Kulo mboten ngertos. (Itu musik apa, kok ramai. Saya tidak mengerti namanya)," kata Tuminem dalam bahasa Jawa. Meski demikian, Tuminem merasa terhibur. Dia mengajak cucunya bergoyang mendengarkan Clorophyl.
Jazz di tengah pasar itu merupakan semacam sosialisasi dari parhelatan Solo City Jazz (SCJ), semacam festival Jazz kecil-kecilan yg rencananya akan digelar pada 4 dan 5 Desember di pasar malam Windu Jenar, Ngarsopuro adalah wilayah yg berada persis di depan Pura Mangkunegaran.
Mengapa Jazz harus datang ke pasar? "Jazz itu harus marani (mendatangi) pendengar, bukan menunggu didatangi," kata Wenny Purwanti dari C-Pro yg punya gawe Solo City Jazz. Menurut pengarah pertunjukan SCJ, Gideon Momongan, hal itu dimaksudkan utk menunjukkan bahwa Jazz adalah utk rakyat, siapa pun mereka.
Dalam upaya membumikan jazz itu, selain Solo, kota Bandung juga akan menggelar Bandung World Jazz Festival 2009 di Sabuga, 3-4 Desember. Perhelatan Jazz juga digelar pd 15 Desember oleh UGM, Yogyakarta, dalam rangka Dies Natalis. UGM nanggap kelompok JavaJazz. Sebelumnya, hari Minggu ini, Jazz goes to Campus digelar di UI, Depok.
Hajatan di Bandung menampilkan musisi Jazz seperti Riza Arsad atau Nita A Quartet, dan lainnya. Solo City Jazz menghadirkan Chloropyl, Deny Suhendra, Bintang Indrianto, dan lainnya. Yg menarik dari parhelatan Jazz di Solo dan Bandung tsb adalah sama-sama menghadirkan Wayan Sadra dgn Sono Seni Asamble-nya. Bandung Jazz menyuguhkan Tiwi Sachuhatica dan Saung Angklung Udjo, serta Kerinding Collaborative yg antara lain melibatkan instrumen kecapi.

Musik "Aneh-Aneh"
"Saya terima saja diundang meski kami bukan kelompok Jazz. Mereka mau bilang (musik) apa, ya terserah," kata Sadra yg bermarkas di Solo. Bagi Sadra yg penting adalah kesempatan mengomunikasikan musik mereka dgn publik yg selama ini dianggap "bodoh" utk mendengarkan musik kontemporer atau Jazz dan lainnya. Justru dari tempat seperti pasar, festival, atau hotel berbintang dimana orang bisa dugem, Sadra belajar kearifan.
"Kami memadukan kreatifitas individu dgn kearifan orang banyak. Bukan berarti kamimenyerah dgn orang banyak. Mereka sering dianggap "bodoh" ," kata Sadra, lulusan Konservatori Karawitan Denpasar dan Pascasarjana di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Solo. Dan, katanya, musik yg dianggap aneh-aneh itu hanya utk orang "pintar". Padhal, mereka (masyarakat umum) dgn cerdas mendengarkan, tetapi industri justru bungkam akan realitas tsb.," kata Sadra yg pernah mendapat penghargaan New Horizon Award dari International Siciety for Art and Science and Technology, Amerika Serikat.
Musik "aneh-aneh" itulah yg akan meramaikan acara Jazz di Bandung dan Solo. Menurut kurator musik Bandung World Jazz, Jaelani, yg disebut aneh-aneh itu merupakan bagian dari proses pencarian terus menerus yg menjadi ciri wanci jazz. Bukankah Jazz swing jauh berbeda dari bebop atau bossa nova, tetapi dilandasi semangat kebebasan utk berubah?
"Ada kecenderungan baru dari musisi Jazz utk mencari alternatif harmoni. Mereka mencari identitas baru dgn keluar dari jazz mainstream," kata Jaelani, lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, yg kini mengajar di Universitas Pasundan, Bandung. "Di Bandung World Jazz kami mendorong seniman mencoba ranah harmoni yg lain supaya identitas jazz kita muncul," ujarnya.
"Kalau kita tdk mengambil peluang luas yg diberikan jazz, kita akan selalu menjadi pengikut jazz yg Amerika. Padahal, jazz kini sdh stateless, milik dunia," kata Andar Manik, General Coordinator Bandung World Jazz Festival 2009. Resikonya, upaya pembaruan akan selalu mendapat reaksi dari publik yg terlanjur terlena pd zona nyaman, yaitu menyukai satu jenis musik tertentu. Publik, menurut Sandra, cukup cerdas, dan akan mampu menerima pembaruan itu. "Malah yg neko-neko itu sebenarnya jauh lebih enak. Kita harus belajar menerima perubahan," kata Sadra.
Mungkin orang perlu belajar dari Mbok Tuminem, bakul sate yg mau menerima Jazz.[-O-]

Minggu, 29 Agustus 2010

Empat Hari Belajar Tortor

Gerakan Eti Sianipar (16) bersama 10 rekannya begitu ritmis. Kaki dan tangan para siswa SMKN 2 Soposurung itu bergerak berdasarkan aba-aba Chandra Butar-butar (16) selaku ketua kelompok. Mereka tampak sdh hafal gerakan tari tortor yg mereka peragakan di pelataran museum Batak milik TB Silalahi Center, Minggu (18/4).
"Belum lama mereka latihan. Baru empat hari lalu. Kami agak ngebut latihan karena mau ikut lomba. Kakak-kakak kelas yg sdh mahir tari tortor sedang berhalangan," kata pelatih tari, Lao Ranto Simanulang.
Menjelang lomba, Eti dan rekannya berlatih dari pukul 09.00 sampai 14.00. Kadang berlanjut sampai menjelang maghrib.
Tortor merupakan tari etnis Batak Toba yg memiliki pakem atau urutan gerakan yg memiliki arti tertentu, bergantung pd tujuan tortor. Apakah utk bersuka cita, menghormati seseorang, atau utk tujuan yg lebih agung, yakni menyembah Tuhan. Tortor dilakukan dgn iringan alat musik tradisional Batak, gondang (kendang), yg dimainkan oleh pargonsi (pemain gondang).
Penari tortor berpakaian khas Batak, berupa kain ulos yg dililitkan di pinggang, seperti sarung (sabe-sabe), ikat kepala atau mahkota (tali-tali), dan selendang (sampe-sampe) utk penari pria. Ketua kelompok harus membawa pedang dan tas sandang kecil. Adapun penari perempuan memakai atasan (hohop-hohop) yg dipadu dgn sabe-sabe dan sampe-sampe. Semua penari bertelanjang kaki.
Pemimpin tari tortor yg disebut kepala suku punya wewenang kapan gondang ditabuh dan kapan berhenti. Dia pula yg memberikan aba-aba kepada para penari utk melakukan gerakan tertentu. Semua aba-aba disampaikan dalam bahasa Batak yg berbentuk pantun yg sarat petuah (umpasa).
Kualitas tari tortor bergantung pd keseragaman gerakan, kesesuaian antara gerakan dan bunyi kendang, serta kerapian pakaian.

Makna Gerakan
Ketua yayasan TB Silalahi Center Masrina R Silalahi.mengingatkan, setiap gerakan tortor mengandung makna tersendiri. Misalnya, saat penari perempuan menengadahkan kedua tangan di atas pundak, itu melambangkan bahwa sbg perempuan dia siap menerima segala tanggung jawab berikut resikonya atau hidup mandiri.
Dalam empat hari, Eti, Chandra, dan sembilan rekannya tdk hanya harus mengenal urutan gerakan, tapi juga memahami makna setiap gerakan "Latihannya memang berat. Tapi, seandainya tdk ada lomba tortor, mungkin saya tdk pernah mengenal tarian itu dan apa artinya meskipun beberapa kali pernah melihat," kata Eti.
Eti mengaku jatuh cinta pd tari tortor. Atau, tepatnya, dgn budaya dan tradisi Batak. Empat hari latihan tari tortor membuat ia menemukan sisi lain identitas diri dan tanggung jawabnya sbg generasi muda Batak. Hal itu adalah ikut menjaga budaya dan tradisi Batak.
Generasi tua Batak, seperti Rustina Napitupulu (56), Maningar Sitorus (41), hingga Masrina, gelisah karena generasi muda mulai meninggalkan budaya dan tradisi Batak. Anak-anak lebih suka menyanyikan lagu Barat dari pada lagu Tradisional Batak. Anak-anak sekolah tak kenal lagi bahasa halus Batak.
Seperti pengakuan Andrino Pardomuan Sihombing (15), siswa sebuah SMP negri Toba Samosir. Dua kali seminggu dia menerima pelajaran bahasa daerah Batak. namun, dia tdk pernah diajar membaca aksara Batak. Dia pun tak mengenal tradisi mangandung (meratap), lagu nenek moyang Batak (marhasapi/hasapi), atau pun gerakan tari tortor. Marmoncak (seni bela diri asli Batak) tak pernah dilihatnya. Dia lebih kenal sinetron dan film. Andrino adalah contoh generasi muda batak yg mulai jauh dari budaya dan tradisi Batak.
Utk itu, kurikulum sekolah tentang budaya dan tradisi Batak harus diperbanyak guna menanamkan rasa cinta generasi muda pada budaya dan tradisinya. Ini tentu tdk hanya berlaku pd Batak, semua daerah perlu melakukan. Globalisasi kerap membuat orang minder dgn budaya dan tradisi sendiri. Itu harus diperangi.
Eti dan Candra makin mencintai tradisi setelah empat hari belajar tortor. Jika pendekatan serupa dilakukan setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun, maka tumbuhlah jutaan Eti lainnya.[-O-]

Rabu, 28 Juli 2010

Saatnya Penggemar John Legend Merapat Barisan

Awal Maret 2010 akan kembali menjadi pesta bagi para pecinta musik Jazz dgn berkumpulnya para musisi Jazz dunia dan dalam negri. Apalagi kalau bukan dalam Jakarta International Java Jazz Festival, pd tgl 5-7 Maret 2010, di Jakarta International Expo (JIExpo), Area PRJ Kemayoran.
Festival ini menjadi ajang yg selalu ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Bahkan, berhasil menjangkau setiap lapisan masyarakat, baik yg sdh menjadi bagian dari pecinta jazz maupun masyarakat umum.
Selain serangkaian show selama tiga hari, dari tahun ke tahun Java Jazz juga selalu menampilkan spesial show dgn mendatangkan musisi luar yg telah ditunggu-tunggu penggemarnya di Tanah Air. Kali ini, giliran John Legend yg akan unjuk gigi di tgl 5 Maret.
Nama JL langsung melekat di hati banyak orang sejak album perdananya. "Get Lifted", muncul di tahun 2004. Salah satu single andalannya, Ordinary People" pun langsung meluncur ke tangga pertama Billboard 1000. JL dgn segera dikukuhkan sbg The Best New Artist dan The Best Male R&B Vocal Performance. dari Academy Award pd tahun 2005.
Kepiawaiannya semakin ditegaskan lewat album kedua, "Once Again" yg diluncurkan pd tahun 2006 dan kembali membawanya meraih The Best Male R&B Vocal Performance dari Grammy Award utk kedua kali. Ditambah lagi dgn Grammy Award utk kategori Best R&B Performance by Duo or Group with Vocal yg diraihnya bersama Joss Stone dan Van Hunt.
Tak cuma di bidang musik, musisi yg selalu ingin berkarya ini juga dikenal dgn aktivitasnya dibidang sosial. Diantaranya adalah membantu masyarakat miskin di Ghana, membantu korban badai Katrina, terlibat penggalangan dana bagi korban HIV di Afrika, hingga menjadi pembicara bagi "Manajemen Leadership for Tomorrow" (MLT) yg membantu memunculkan pemimpin masa depan bagi generasi muda keturunan afrika, Latin, dan Indian di Amerika serikat.
Diantar kesibukannya meluncurkan album rekaman ketiga, Evolver, John Legend aktif mengampanyekan demokrasi dan Barack Obama, yg akhirnya merupakan orang Afro-Amerika pertama yg menjadi presiden Amerika Serikat. Dalam waktu dekat, John Legend akan merilis album terbarunya, The Wake Up Session, dimana ia berkolaborasi, salah satunya dgn The Roots.
Selain JL, Java Jazz juga akan menghadirkan Toni Braxton, The Manhattan Transfer Big Band dan Babyface. Yg jelas, jika anda mengaku penggemar JL, silahkan rapatkan barisan, jangan sampai ketinggalan menyaksikan penampilannya.[-O-]

u/ judul milis off line

Rabu, 14 Juli 2010

Saatnya Dunia Seni Rupa Unjuk Gigi

Meski perkembangan dunia seni rupa di Tanah Air terus menunjukkan peningkatan, namun apresiasi dan ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap dunia seni yg satu ini masih dirasa kurang. Padahal, dunia seni rupa di Indonesia telah diakui di kancah Asia Tenggara maupun dunia internasional.
Kualitas seniman Indonesia pun mendapat pengakuan dan banyak dicari oleh masyarakat dunia. Adanya anggapan bahwa pecinta seni rupa hanya merambah kalangan terbatas, agaknya menjadi salah satu kendala bagi semakin meluasnya seni rupa di Indonesia. Beranjak dari sinilah, Asosiasi Galeri Senirupa Indonesia (AGSI) yg berdiri tahun 2005 menelurkan Jakarta Art District (JAD).
JAD terdiri dari 9 galeri yg sebagian tergabung dalam AGSI, yaitu Andy's gallery, Canna Gallery, Edwin's Gallery dll. JADpun diharapkan dapat menjadi wadah yg memudahkan menjangkau publik yg lebih luas, baik lokal maupun manca-negara.
Sebagai langkah awal, JAD akan mengge;ar pameran bertema "Magaini", yg melibatkan 18 seniman representasi dari 9 galeri serta 3 seniman tamu. Hanya, pameran ini berbeda dri yg lain. Agung Hutagalung, sang kurator, membawa pendekatan baru dalam pameran, dimana setiap seniman diminta utk membuat interpretasi tersendiri dari Magainin, yg tak lain sebuah cerpen karya Dinar Rahayu.
Cerita fiktif ini mengambil unsur mitologi Yunani yg berkisah mengenai konflik antara ibu dan anak. Singkatnya, ada seorang ibu yg selalu cekcok dgn anaknya, hingga menimbulkan perang, dan si anak akhirnya dibunuh oleh sang Ibu. Di dalamnya ada banyak proses yg tergambar,, seperti pertentangan hati dan emosi," terang Mira Pratiwi, Promotion & PR AGSI.
Tidak cuma lukisan, pameran ini juga akan menampilkan video art dan Zpatung. "Dari hasil interpretasi tersebut respon yg didapat bisa sangat beragam dan bisa melihat kreatifitas dari masing-masing seniman," tambah Mira.
Pameran ini akan berlangsung selama tgl 27 Februari sampai 7 Maret 2010, tepatnya di Grand Indonesia Shopping Town East Mall, LG #33A-37.
Untuk ke depannya, JAD akan secara konsisten mengadakan perhelatan seni. Salah satunya adalah dgn menghadirkan pameran setiap dua minggu sekali, yg juga menggandeng Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk bekerja sama.[-O-]

Rabu, 24 Februari 2010

Siap Siap Tersihir Alunan Jazz

Bicara musik Jazz, benak anda mungkin langsung membanyangkan sebuah musik bercita rasa tinggi khas kalangan atas. Padahal, jika menilik sejarahnya, siapa sangka dulu Jazz boleh dikatakan musik kalangan minoritas.

Pada awalnya, tradisi Jazz berkembang dari gaya hidup masyarakat kulit hitam di Amerika yg tertindas. Dalam perkembangnnya kemudian, Jazz akhirnya menjadi musik yg merefleksikan melodi-melodi secara harmonis hingga sekarang.

Perlahan tapi pasti, ”sihir” Jazz mulai menyebar ke seluruh dunia, bahkan hingga ke Indonesia. Tak hanya orang tua, anak mudapun turut larut menikmati musik yg satu ini. Lihat saja animo anak muda yg antusias menyaksikan Jazz di kampusnya, hingga Jazz yg berkelas internasional di acara seperti Java Jazz Festival.

Kelas Dunia

Selama lima tahun berturut-turut, Java Festivali Production sukses menggelar Jakarta Internasional Java Jazz Festival. Seperti acara-acara sebelumnya, kali ini para musisi kelas dunia seperti, George Duke, Sergio Mendes, The Manhattan Transfer, Lisa Ono, Incognito, David Benoit Bobby Caldwell, serta musisi Indonesia, Bubi Chen,Jopie Item, hingga Dwiki Dharmawan, akan menyihir para penggemar jazz Indonesia.

Diperkirakan ada sekitar 30 ribu penonton perhari yg akan memadati acara yg disponsori AXIS ini. Tak heran jika pihak penyelenggara Jakarta Festival Production akan memindahkan acara ini ke tempat yg lebih luas yaitu di JIExpo Kemayoran. Bagi anda yg terbisa menikmati alunan jazz dari pemutar musik, sudah saatnya sekarang beranjak menikmati jazz secara langsung. Anda perlu merasakan proses terciptanya atmosfer yg memukau, ketika kepiawaian musisi seperti Baby face, John Legen, The Manhattan Transfer The Chick Corea Songbook, dan The Manhattan Transfer Big Band berpadu harmonisasi musik dan tata panggung yg apik.

Untuk mengabadikan momen tersebut, Kompas bekerja sama dgn Canon akan menggelar pelatihan fotografi bertema fotografi panggung dan trik low light photography bersama pewarta foto Kompas Arbain Rambey. Pelatihan ini akan digelar pada 6 Maret 2010 di Bromo Room, JIExpo Kemayoran dari pukul 18.00-19.00 WIB. Menariknya, terdapat suvenir menarik jika anda dapat menunjukkan kamera Digital Canon di stan Canon di Java Jazz 2010 dari tanggal 5-7 Maret 2010. Jadi, anda masih tersihir jazz di sana?[-O-]