Minggu, 29 Agustus 2010

Empat Hari Belajar Tortor

Gerakan Eti Sianipar (16) bersama 10 rekannya begitu ritmis. Kaki dan tangan para siswa SMKN 2 Soposurung itu bergerak berdasarkan aba-aba Chandra Butar-butar (16) selaku ketua kelompok. Mereka tampak sdh hafal gerakan tari tortor yg mereka peragakan di pelataran museum Batak milik TB Silalahi Center, Minggu (18/4).
"Belum lama mereka latihan. Baru empat hari lalu. Kami agak ngebut latihan karena mau ikut lomba. Kakak-kakak kelas yg sdh mahir tari tortor sedang berhalangan," kata pelatih tari, Lao Ranto Simanulang.
Menjelang lomba, Eti dan rekannya berlatih dari pukul 09.00 sampai 14.00. Kadang berlanjut sampai menjelang maghrib.
Tortor merupakan tari etnis Batak Toba yg memiliki pakem atau urutan gerakan yg memiliki arti tertentu, bergantung pd tujuan tortor. Apakah utk bersuka cita, menghormati seseorang, atau utk tujuan yg lebih agung, yakni menyembah Tuhan. Tortor dilakukan dgn iringan alat musik tradisional Batak, gondang (kendang), yg dimainkan oleh pargonsi (pemain gondang).
Penari tortor berpakaian khas Batak, berupa kain ulos yg dililitkan di pinggang, seperti sarung (sabe-sabe), ikat kepala atau mahkota (tali-tali), dan selendang (sampe-sampe) utk penari pria. Ketua kelompok harus membawa pedang dan tas sandang kecil. Adapun penari perempuan memakai atasan (hohop-hohop) yg dipadu dgn sabe-sabe dan sampe-sampe. Semua penari bertelanjang kaki.
Pemimpin tari tortor yg disebut kepala suku punya wewenang kapan gondang ditabuh dan kapan berhenti. Dia pula yg memberikan aba-aba kepada para penari utk melakukan gerakan tertentu. Semua aba-aba disampaikan dalam bahasa Batak yg berbentuk pantun yg sarat petuah (umpasa).
Kualitas tari tortor bergantung pd keseragaman gerakan, kesesuaian antara gerakan dan bunyi kendang, serta kerapian pakaian.

Makna Gerakan
Ketua yayasan TB Silalahi Center Masrina R Silalahi.mengingatkan, setiap gerakan tortor mengandung makna tersendiri. Misalnya, saat penari perempuan menengadahkan kedua tangan di atas pundak, itu melambangkan bahwa sbg perempuan dia siap menerima segala tanggung jawab berikut resikonya atau hidup mandiri.
Dalam empat hari, Eti, Chandra, dan sembilan rekannya tdk hanya harus mengenal urutan gerakan, tapi juga memahami makna setiap gerakan "Latihannya memang berat. Tapi, seandainya tdk ada lomba tortor, mungkin saya tdk pernah mengenal tarian itu dan apa artinya meskipun beberapa kali pernah melihat," kata Eti.
Eti mengaku jatuh cinta pd tari tortor. Atau, tepatnya, dgn budaya dan tradisi Batak. Empat hari latihan tari tortor membuat ia menemukan sisi lain identitas diri dan tanggung jawabnya sbg generasi muda Batak. Hal itu adalah ikut menjaga budaya dan tradisi Batak.
Generasi tua Batak, seperti Rustina Napitupulu (56), Maningar Sitorus (41), hingga Masrina, gelisah karena generasi muda mulai meninggalkan budaya dan tradisi Batak. Anak-anak lebih suka menyanyikan lagu Barat dari pada lagu Tradisional Batak. Anak-anak sekolah tak kenal lagi bahasa halus Batak.
Seperti pengakuan Andrino Pardomuan Sihombing (15), siswa sebuah SMP negri Toba Samosir. Dua kali seminggu dia menerima pelajaran bahasa daerah Batak. namun, dia tdk pernah diajar membaca aksara Batak. Dia pun tak mengenal tradisi mangandung (meratap), lagu nenek moyang Batak (marhasapi/hasapi), atau pun gerakan tari tortor. Marmoncak (seni bela diri asli Batak) tak pernah dilihatnya. Dia lebih kenal sinetron dan film. Andrino adalah contoh generasi muda batak yg mulai jauh dari budaya dan tradisi Batak.
Utk itu, kurikulum sekolah tentang budaya dan tradisi Batak harus diperbanyak guna menanamkan rasa cinta generasi muda pada budaya dan tradisinya. Ini tentu tdk hanya berlaku pd Batak, semua daerah perlu melakukan. Globalisasi kerap membuat orang minder dgn budaya dan tradisi sendiri. Itu harus diperangi.
Eti dan Candra makin mencintai tradisi setelah empat hari belajar tortor. Jika pendekatan serupa dilakukan setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun, maka tumbuhlah jutaan Eti lainnya.[-O-]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar