Rabu, 10 Februari 2010

Mereka Berjuang Mencari Alur Dalam

Bendera merah putih kecil di atas perahu dagang rute Palangkaraya-Gunung Mas yg tertambat di dermaga Flamboyan , Kecamatan Pahandut, Kota Palangkaraya, Kalimantan tengah, itu seperti terkulai, tak lagi berkibar sebagaimana saat melaju memecah riak Sungai Kahayan. Sejak pertengahan Juli hingga menjelang HUT ke-64 RI ini, aktifitas angkutan perahu dagang di rute tersebut lumpuh akibat surutnya sungai kahayan. Kedalaman air di beberapa lokasi Cuma sekitar 1 meter. Kapal-kapal sungai yg mengangkut barang hingga 5 ton praktis tdk bias melewatinya.
Hingga Rabu (12/8), Dermaga Flamboyan yg merupakan tempat bongkar muat barang dengan rute ke hulu atau pedalaman gunung Mas tsb pun lengang. Hanya kapal dagang Rute Palangkaraya ke Bahaur, Kabupaten Pulang Pisau, dan ke danau Panggang, Kalimantan Selatan, yg berlayar lewat pelabuhan Rambang. Rute ke arah Hilir Kahayan itu masih sanggup dilayani karena terbantu arus pasang surut dari Laut Jawa. ”Namun, kami pun harus pandai mencari celah alur yg dalam agar kapal tidak kandas menabrak gosong (pulau yg timbul disaat air surut),” kata Udin, awak kapal perahu rute Bahaur.
Upaya mandiri pemilik dan awak kapal ini harus dilakukan di tengah belum adanya solusi untuk mengatasi surutnya Kahayan. Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kalteng Rigumi mengakui saat ini belum ada program pengerukan Sungai di Kahayan. ”Yang ada adalah pengerukan alur pelayaran, itu pun di sungai yg ada pelabuhan lautnya, seperti di alur Barito, Banjarmasin. Selain itu juga di Mentaya (Kabupaten Kota Waringin Timur) dan Kumai (kota Waringin Barat) yg sudah kami usulkan tahun ini,” kata Rigumi.

Beruntung, di rute Palangkaraya yg dilayari Udin masih ada alur dalam. Lain halnya dengan angkutan rute ke arah hulu yg saat ini terpaksa berhenti beroperasi karena dangkalnya alur, seperti di sekitar Sepang Simin, Kabupaten Gunung Mas. Kepala lalu lintas Angkutan Sungai, Danau, dan Penyebrangan (LLASDP) Pelabuhan Flamboyan Rustandi menuturkan, banyak perahu dagang rute ke Gunung Mas beralih ke Banjarmasin.

Tersisa 29 Kapal

Sementara itu, sejumlah pedagang yg juga memiliki truk mengoperasikan kendaraannya itu untuk mengangkut barang melalui jaringan jalan Palangkaraya-Kualakurun, ibukota Kabupaten Gunung Mas. Surutnya sungai Kahayan otomatis mengurangi jumlah kapal dagang yg beroperasi. Kepala LLASDP Pelabuhan Rambang Budiono Amat mengatakan, saat ini jumlah kapal dagang yg beroperasi tersisa 29 unit dari total 293 kapal yg dagang yg tercatat di Dermaga Rambang.

Kepala Pusat Penelitian Lingkungan hidup Universitas Palangkaraya Andrie Ellia menjelaskan, surutnya sungai terjadi karena pemanasan global. Penyebab lain rusaknya daerah tangkapan air di daerah hulu sehingga tdk ada lagi yg mampu menahan air. Akibatnya, pada musim hijan air sungai meluap hingga menimbulkan banjir dan sebaliknya pada musim kemarau air sungai pun cepat surut.

Adapun sempadan sungai yg rusak karena digunakan untuk berbagai peruntukan, seperti permukiman atau ditambang, mendorong terjadinya erosi yg mengakibatkan pendangkalan sungai,“ ujar Andrie. Menurut dia, rehabilitasi daerah tangkapan air dan sempadan merupakan solusi utk mengembalikan lagi fungsi hidrologis kawasan.[-O-]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar