Jumat, 26 Februari 2010

Cuma 1,1 Persen Dosen Mampu Meneliti.

Dari 180.000 dosen di Indonesia, diperkirakan hanya sekitar 1,1 persen yg mampu meneliti secara layak. Tidak heran, kontribusi Indonesia pada perkembangan ilmu pengetahuan amat rendah.
Demikian disampaikan penilai hibah bersaing Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dikti) Mien A Rifai APU, di Surabaya, Selasa (22/1). „Setidaknya saya lihat itu berdasarkan proposal penelitian yg masuk ke Dikti. Secara umum 2.000 Dosen yg mampu meniliti dgn layak,” ujarnya. Banyak Dosen lebih sibuk dibanyak tempat dari pada meneliti untuk kepentingan pengembangan ilmu. Pasalnya, penelitian utk bidang ilmu dinilai lebih merepotkan.
Untuk mendapat hibah bersaing dari Dikjen Dikti, dosen harus mengajukan proposal. Meski sudah cukup susah membuat proposal, belum tentu dana diterima oleh dosen tersebut jika kalah bersaing. Lain halnya jika mereka mengajar di banyak tempat. Mereka bisa segera mendapat bayaran tanpa perlu banyak kerepotan. Bayaran bisa diterima langsung setelah selesai mengajar.” Tetapi akibatnya penelitian amat kurang baik,“ ujarnya.
Penelitian yg kurang itu berujung pada rendahnya publikasi ilmiah dari dosen indonesia di jurnal International. Data dari banyak penerbit internasional menyebutkan kontribusi Indonesia pada jurnalInternasional hanya 0,012 persen. Kontribusi ini lebih rendah dari Nepal yg mampu menyumbang 0,014 persen. Padahal, Nepal negaranya lebih kecil dan kalah maju dibanding dgn Indonesia.”Kalau disbanding dgn Singapura, malah lebih jauh lagi. Singapura menyumbang 0,179 persen bagi jurnal Internasional ,” tuturnya.
Mien kurang sepakat bila dana dijadikan alas an. Pasalnya, dana relatif cukup tersedia. „Dari Dikti saja ada Rp. 240 miliar untuk tahun 2007 lalu,” ujarnya. Penilai hibah lainnya, Suminar S Ahmadi, mengatakan butuh waktu panjang utk meningkatkan kemampuan dosen.[-O-]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar