PEMANDANGAN tak biasa terlihat di pasar Gede Harjonagoro, Solo, Jawa Tengah, Sabtu siang. Saat itu kelompok Jazz Clorophyl dari Jakarta tampil di tengah simbok-simbok bakul di pasar Gede. Mereka tampak antusias melihat band yg pentas di antara dagangan beras, pisang, tempe, cabai dan lainnya. Di antara mereka ada Mbok Tuminem (54),penjual sate ayam ygbahkan belum pernah mendengar kata Jazz.
"Niku musik nopo to, kok dombreng-dombreng. Kulo mboten ngertos. (Itu musik apa, kok ramai. Saya tidak mengerti namanya)," kata Tuminem dalam bahasa Jawa. Meski demikian, Tuminem merasa terhibur. Dia mengajak cucunya bergoyang mendengarkan Clorophyl.
Jazz di tengah pasar itu merupakan semacam sosialisasi dari parhelatan Solo City Jazz (SCJ), semacam festival Jazz kecil-kecilan yg rencananya akan digelar pada 4 dan 5 Desember di pasar malam Windu Jenar, Ngarsopuro adalah wilayah yg berada persis di depan Pura Mangkunegaran.
Mengapa Jazz harus datang ke pasar? "Jazz itu harus marani (mendatangi) pendengar, bukan menunggu didatangi," kata Wenny Purwanti dari C-Pro yg punya gawe Solo City Jazz. Menurut pengarah pertunjukan SCJ, Gideon Momongan, hal itu dimaksudkan utk menunjukkan bahwa Jazz adalah utk rakyat, siapa pun mereka.
Dalam upaya membumikan jazz itu, selain Solo, kota Bandung juga akan menggelar Bandung World Jazz Festival 2009 di Sabuga, 3-4 Desember. Perhelatan Jazz juga digelar pd 15 Desember oleh UGM, Yogyakarta, dalam rangka Dies Natalis. UGM nanggap kelompok JavaJazz. Sebelumnya, hari Minggu ini, Jazz goes to Campus digelar di UI, Depok.
Hajatan di Bandung menampilkan musisi Jazz seperti Riza Arsad atau Nita A Quartet, dan lainnya. Solo City Jazz menghadirkan Chloropyl, Deny Suhendra, Bintang Indrianto, dan lainnya. Yg menarik dari parhelatan Jazz di Solo dan Bandung tsb adalah sama-sama menghadirkan Wayan Sadra dgn Sono Seni Asamble-nya. Bandung Jazz menyuguhkan Tiwi Sachuhatica dan Saung Angklung Udjo, serta Kerinding Collaborative yg antara lain melibatkan instrumen kecapi.
Musik "Aneh-Aneh"
"Saya terima saja diundang meski kami bukan kelompok Jazz. Mereka mau bilang (musik) apa, ya terserah," kata Sadra yg bermarkas di Solo. Bagi Sadra yg penting adalah kesempatan mengomunikasikan musik mereka dgn publik yg selama ini dianggap "bodoh" utk mendengarkan musik kontemporer atau Jazz dan lainnya. Justru dari tempat seperti pasar, festival, atau hotel berbintang dimana orang bisa dugem, Sadra belajar kearifan.
"Kami memadukan kreatifitas individu dgn kearifan orang banyak. Bukan berarti kamimenyerah dgn orang banyak. Mereka sering dianggap "bodoh" ," kata Sadra, lulusan Konservatori Karawitan Denpasar dan Pascasarjana di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Solo. Dan, katanya, musik yg dianggap aneh-aneh itu hanya utk orang "pintar". Padhal, mereka (masyarakat umum) dgn cerdas mendengarkan, tetapi industri justru bungkam akan realitas tsb.," kata Sadra yg pernah mendapat penghargaan New Horizon Award dari International Siciety for Art and Science and Technology, Amerika Serikat.
Musik "aneh-aneh" itulah yg akan meramaikan acara Jazz di Bandung dan Solo. Menurut kurator musik Bandung World Jazz, Jaelani, yg disebut aneh-aneh itu merupakan bagian dari proses pencarian terus menerus yg menjadi ciri wanci jazz. Bukankah Jazz swing jauh berbeda dari bebop atau bossa nova, tetapi dilandasi semangat kebebasan utk berubah?
"Ada kecenderungan baru dari musisi Jazz utk mencari alternatif harmoni. Mereka mencari identitas baru dgn keluar dari jazz mainstream," kata Jaelani, lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, yg kini mengajar di Universitas Pasundan, Bandung. "Di Bandung World Jazz kami mendorong seniman mencoba ranah harmoni yg lain supaya identitas jazz kita muncul," ujarnya.
"Kalau kita tdk mengambil peluang luas yg diberikan jazz, kita akan selalu menjadi pengikut jazz yg Amerika. Padahal, jazz kini sdh stateless, milik dunia," kata Andar Manik, General Coordinator Bandung World Jazz Festival 2009. Resikonya, upaya pembaruan akan selalu mendapat reaksi dari publik yg terlanjur terlena pd zona nyaman, yaitu menyukai satu jenis musik tertentu. Publik, menurut Sandra, cukup cerdas, dan akan mampu menerima pembaruan itu. "Malah yg neko-neko itu sebenarnya jauh lebih enak. Kita harus belajar menerima perubahan," kata Sadra.
Mungkin orang perlu belajar dari Mbok Tuminem, bakul sate yg mau menerima Jazz.[-O-]