Rabu, 09 Februari 2011

Memberdayakan Masyarakat Hidup Sehat.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kondisi kesehatan yg baik merupakan salah satu faktor penunjang peningkatan kualitas hidup manusia.. Oleh sebab itu, sdh sepatutnya hidup bersih dan sehat menjadi sikap yg diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Pada tahun 2003, survei Depkes menunjukkan ratio penyakit yg timbul akibat perilaku tidak bersih tergolong tinggi, diaman angka diare sekitar 300 per 1.000 penduduk berlangsung sepanjang tahun. Hasil survei tsb tentu cukup menjadi dasar yg kuat bahwa sikap dan perilaku yg mencerminkan hidup bersih dan sehat menjadi sesuatu yg tidak bisa dianggap sepele.
Hal itulah kemudian yg mendasari Lifebouy meluncurkan program Lifebouy Berbagi Sehat sebagai wujud komitmen dan kepeduliannya pd kesehatan masyarakat. Bagaimanapun, sebagai sebuah institusi yg hidup di tengah masyarakat, maka sdh sepatutnya jika Lifebouy memberikan sumbangsih demi menjaga hubungan simbiosis mutualisme yg harmonis dgn masyarakat. Salah satunya dgn mendukung kebiasaan mencuci tangan yg baik dan benar yakni menggunakan sabun minimum selama 20 detik di bawah air mengalir.
Lewat program ini Lifebouy mencoba mengampanyekan pentingnya menjaga kebersihan, salah satunya dgn kebiasaan mencuci tangan yg baik dan benar, yakni dgn menggunakan sabun dibawah air yg mengalir.
Tahun 2007 adalah tahun keempat Lifebouy berbagi sehat diadakan, dgn mengangkat tema Sehat Ada di Tangan Kita, Lifebouy ingin mengingatkan dan memberi edukasi bahwa kesehatan merupakan faktor yg sangat penting utk diperhatikan. Dan semua itu pd dasarnya sangat bergantung dari individu masing-masing.
Meski terdengar sederhana, mencuci tangan yg baik dan benar tidaklah cukup dgn membasuhnya dgn air saja, melainkan ada beberapa tahapan yg perlu dilakukan. Pertama adalah membasahi tangan dgn air dan menggunakan sabun secukupnya utk seluruh permukaan kulit tangan, kemudian seluruh permukaan tangan jangan lupa utk membersihkan sela-sela jari.
Langkah berikutnya adalah dgn menggosok permukaan atas telapak tangan dgn tak lupa mencermati sela-sela kuku jari. Setelah semua langkah tersebut dilaksanakan, bilas tangan dgn air mengalir dan keringkan dgn lap bersih.

Kader Kesehatan
Utk menjalankan program tsb Lifebouy menggandeng beberapa LSM di daerah, agar kampanye pentingnya menjaga kebersihan yg baik bisa sampai ke masyarakat secara efektif. Seperti dgn Spektra (Studi dan Pembangunan Keberdayaan Masyarakat) Surabaya yg antara lain berupaya memasukkan cuci tangan sebagai bagian dari kurikulum sekolah.
Direktur Spektra Roni S mengatakan bahwa upaya ini berawal dari rendahnya angka human development index di Jawa Timur yg salah satunya dikarenakan tingkat derajat kesehatan yg masih rendah akibat perilaku masyarakat yg kurang sehat. Oleh karena itu diperlukan treatment berupa transformasi perilaku hidup bersih dan sehat yg dimulai dari sekolah dan rumah tangga. Dimana melaluisekolah, hal tsb diberikan dari kelas 1-6 SD.
"Kemudian di Posyandu itu utk orangtua. Di sini mereka diajari dan ditransformasi pola hidup bersih dan sehat- khususnya cuci tangan pakai sabun- serta akibat yg timbul dari pola hidup tanpa cuci tangan. maka nanti akan ada akselerasi terhadap kebiasaan cuci tangan pakai sabun di masing-masing rumah tangga karena si anak di sekolah diajari dan si ibu diajari. setelah ketemu di rumah nanti akan terimplementasi," kata Roni.
Beserta timnya Roni mengadakan pendekatan dgn dinas pendidikan kabupaten kota, sampai akhirnya disepakati hal tersebut dimasukkan dalam materi pengayaan bidang studi sains. Dgn demikian, nanti guru-guru sains akan terus menggunakan materi itu di sekolah. Di samping dimasukkan di materi di sekolah kita buat campaign di sekolah dalam bentuk antara lain lomba dgn diberikan sedikit suvenir dan kemudian kita dorong mereka melakukan kegiatan dgn memasukkan unsur cuci tangan," tambah Roni.
Akan halnya di Yogyakarta dimana Lifebouy menjalin kerjasama dgn IHPP yg di dalamnya terdiri dari tujuh stakeholders yaitu Pemprov DIY yg implementasinya melalui inas Kesehatan, Unilever, Sanggar Padmaya, Surat kabar Kedaulatan Rakyat, radio Sonora, RBTV dan IPMC. IHPP sendiri sengaja dirancang dgn sasaran pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Oleh karena itu IHPP melatih kader-kader kesehatan terutama di desa dan puskesmas utk diteruskan kepada masyarakat agar mau ikut bergerak memerhatikan kesehatan.
"Jadi kader itu pertama diberi kemampuan utk memberdayakan masyarakat. Metode diberikan kemudian bagaimana metode itu bisa dipakai utk menggerakkan masyarakat dalam hal kemandirian utk kesehatan masyarakat. Kita bergerak dibidang preventif, antara lain pengelolaan sampah, sikat gigi, dan cuci tangan utk hindari diare," tutur Pimpinan sanggar Padmaya Anselmus Kaluge.
Ansel menambahkan bahwa di Yogyakarta, dari survei yg dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat, diare merupakan salah satu masalah besar yg dihadapi. Oleh karena itu, maka perhatian pd kegiatan cuci tangan menjadi sangat penting dilakukan.

Pasukan 20 Detik
Bentuk realisasi lainnya dari Program Lifebouy Berbagi Sehat (LBS) adalah dgn menjalin kerjasama dgn lembaga-lembag terkait seperti Dinas Pendidikan. Dengan menghadirkan pakar-pakar di bidang kesehatan dan pendidikan, Lifebouy mengadakan seminar atau lokakarya tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat ke komunitas sekolah.
Lokakarya yg diadakan di empat kota yaitu Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta ini memiliki fokus utama yaitu utk memberikan pengetahuan tentang kesehatan dan cara membentuk dokter kecil kpd guru-guru SD dan kader kesehatan.
Dengan bekal yg diperoleh dari Lokakarya atau seminar, para guru SD mengaktifkan dokter kecil di sekolah masing-masing yg disebut "Pasukan 20 detik". Angak 20 detik menjelaskan proses mencuci tangan dgn baik dan benar menggunakan sabun selama minimal 20 detik. Pasukan 20 detik terdiri dari siswa/siswi dari kelas 4, 5, dan 6 SD yg berprestasi dan berjiwa pemimpin. Mereka dibentuk menjadi kader kesehatan cilik, pelopor dan penggerak budaya hidup sehat bagi dirinya, teman-teman, keluarga, lingkungan sekolah, dan tentu masyarakat di sekitarnya. Setelah pasukan terbentuk, kepala sekolah yg bersangkutan menghubungi dinas kesehatan di masing-masing wilayah utk mendapatkan penataran dokter kecil.
Pucak dari kegiatan ini adalah Health Camp Pasukan 20 detik yg digelar pd 14-15 November tahun lalu di Situ Gintung, Cirendeu, Jaksel. Dan utk menandai komitmennya dlm membangun kesadaran masyarakat utk membiasakan hidup sehat dgn mencuci tangan maka dalam acara tsb dicanangkan prasasti Sehat Ada di Tangan Kita.
Sampai sekarang, sdh ada sekitar 200 Sd di Pulau Jawa yg membentuk Pasukan 20 Detik, dimana dari setiap SD rata-rata ada 20 anggota, sehingga di Pulau Jawa sdh ada paling tidak 4.000 anggota pasukan 20 Detik Lifebouy yg siap menyosialisasikan cuci tangan dgn sabun dan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), salah satunya mengajarkan mencuci tangan menggunakan sabun dan air bersih dgn baik dan benar serta budaya hidup sehat lain seperti membuang sampah pd tempatnya.
Secara tdk langsung, pembentukan Pasukan 20 Detik akan mendorong kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) agar dapat lebih optimal dalam menjalankan peranannya, yaitu sebagai agen-agen perubahan dalam pembangunan kesehatan di masyarakat, yg diutamakan pd usaha promotif dan preventif.
Diharapkan dgn adanya pasukan 20 Detik Lifebouy ini, budaya mencuci tangan sabun dgn baik dan benar dpt mencegah datangnya penyakit diare, flu burung, cacingan, tifus, kolera, hepatitis A, dan SARS (severe acute respiratory syndrome). Kesehatan memang menjadi harta yg tak ternilai. Dan utk menjaganya, dibutuhkan kesadaran dari setiap individu utk memulai hidup yg sehat, karena bagaimanapun kesehatan ada di tangan kita sendiri bukan?[-O-]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar