Dulu Indonesia pernah dijuluki sebagai bangsa yg murah senyum. Namun, ketika beragam peristiwa kekerasan yg terjadi di negri ini melunturkan predikat tsb, pujian yg diberikan Negara lain itu setidaknya masih dapat ditemukan di Jogja.
Coba saja anda menanyakan kepada siapapun di kota, mereka akan menerangkan arah dengan penuh kesabaran tanpa pamrih. Bahkan ada yg tidak segan-segan menawarkan diri untuk mengantarkan ke tempat yg ingin dituju. Suatu hal yg terasa makin langka, terutama di kota-kota metropolitan.
Namun bagi yg tak terbiasa dengan konsep mata angin, mungkin menanyakan arah kepada orang Jogja (dan juga orang Jawa pd umumnya) akan menjadi sedikit masalah. „Lurus saja ke utara kemudian belok ke barat kata si penunjuk arah, yg biasanya akan direspon oleh si penanya yg bukan orang Jawa, atau orang Jawa yg tidak terbiasa dengan arah mata angin dengan :“utara itu kanan atau kiri?“ Ternyata tidak perlu jauh-jauh ke negri lain, di negri sendiri pun dapat mengalami benturan budaya (culture shock)
Layaknya masyarakat berlatar budaya agraris, orang Jawa terbiasa akan konsep arah mata angin utara (lor), Selatan (kidul), timur (wetan) dan barat (kulon) yg berpatokan pada letak matahari sebagai panduan untuk melakukan aktivitas bercocok tanam.
Masyarakat Jawa juga percaya bahwa setiap arah mata angina memiliki dewa penunggu, yaitu arah timur ditunggui oleh Maha Dewa, Barat oleh Batara Yamadipati, Utara oleh Batara Wisnu, dan Selatan oleh Batara Brahma.
Dalam mitologi Jawa, Batara Yamadipati adalah dewa kematian, sehingga dampak dari kepercayaan ini adalah jarang ada rumah orang Jawa yg menghadap barat karena berarti mengharap kematian. Hal ini mengingatkan pada etnis cina yg juga percaya bahwa arah rumah memiliki pengaruh peruntungan dan kesialan bagi penghuninya.
Lain kali ke Jogja, bila anda menanyakan arah namun tidak mengerti tentang konsep mata angin, tidak perlu emosi kepada si penunjuk jalan. Cukup tanya ulang apakah yg dimaksud kiri atau kanan. [o]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar