Aditya memang belum bisa memabaca. Seandainya bisa, ia pasti sudah menangis sejadi-jadinya karena dalam koran itu terdapat berita mengenai meninggalnya sang ibu, Siti Maemunah (24), akibat agresi Israel ke Lebanon. Setelah puas melihat sejumlah gambar mobil, Aditya mengacak-acak koran itu dan kembali bermain dgn Mariam (16), adik Siti Maumunah. Dot susu tidak ia lepaskan dari mulutnya.
Seperti anak-anak lain sebayanya, kedatangan tetangga, wartawan, aparat desa dan kecamatan, polisi, dan tentara yg membuat rumah neneknya ramai tak menarik perhatian Aditya. Tentu saja karena tidak mengerti keadaan, tak terpancar sedikit pun kesedihan dalam raut Aditya. Seandainya sudah bisa membaca, Aditya pasti akan memprotes perang yg tak juga berakhir di Timur tengah dan bahkan mengakibatkan ibunya meninggal menggenaskan.
Kondisi itu justru membuat sebagian ibu-ibu tetangganya menjadi iba. Seharian, tak surut warga yg menitikkan air mata setiap kali melihat atau menggendong Aditya. Warga memenuhi rumah keluarga sederhana itu, yg berukuran 6x8 meter. Warga yg tidak kebagian tempat rela berdiri di depan rumah yg terletak di perumahan amat padat, di tepi jalan setapak, di pinggir Sukabumi.
Rohanah tampak terpukul dengan kepergian putrinya. Selain kehilangan anak permpuan yg diharapkan menjadi tulang punggung keluarganya sepeninggal suami Rohanah, Bisri Muchtar, satu tahun lalu, Rohanah juga harus menerawang jauh mengenai masa depan Aditya.
Sebelum kepergian Siti ke Kuwait, ayah Aditya, Aris Widodo, meninggalkan mereka dgn tujuan tak jelas. Keluarga tak mengungkapkan sebab kepergian Aris. Seorang anggota keluarga Rohanah menyatakan, pemicu kepergian Aris hanya masalah sangat sepele.
Keluarga besar Rohana pun hingga saat ini tidak bisa melakukan kontak dgn Aris yg benar-benar tak terlacak. Sebelum meninggalkan istrinya, Aris bekerja sebagai sopir angkot. Kepergian Siti ke Kuwait untuk menjadi tenaga kerja agaknya dipicu kedongkolannya atas kepergian Aris yg tanpa alasan jelas itu. Rohanahpun sebenarnya sudah melarang Siti pergi bersama adiknya, Nurhayati. Namun, Siti tak bisa dicegah lantaran kepergian suaminya.
Sejauh ini nasib Aditya memang belum jelas, apalagi ibunya yg berangkat jadi TKI melalui PT Binhasan Maju Sejahtera tak tercatat di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sukabumi. Hka-hak Aditya sebagai warga negara yg ibunya meninggal karena perang di negri orang pun masih kabur.
Penyalur yg memberangkatkan Siti hanya memiliki hubungan kerja dgn almarhumah Siti, bukan Aditya. Kendati akan memproses gaji Siti selama enam bulan sebanyak Rp 9 juta dan asuransi sebesar Rp 20 juta, jelas tak cukup untuk membiayai masa depan Aditya.
Selama pergi dari rumah, Siti hanya satu kali menjalin komunikasi dgn keluarganya di Sukabumi dan menanyakan kondisi anaknya. "Bulan Mei lalu Siti menelepon. Ia menanyakan kabar saya dan Aditya. Ia pun masih menanyakan bagaiman kesehatan Aditya dan seberapa lancar Aditya minum susu. Itulah kontak terakhir kami dgn Siti," ujar Rohanah.
Aditya benar-benar menjadi yatim piatu setelah ibunya menjadi korban kekejaman perang yg dikobarkan Israel. Sekarang, Aditya memang belum tahu apa yg terjadi di sekitarnya dan bagaimana dia akan menjalani masa depan tanpa ibu yg sudah meninggal dan ayahnya yg pergi entah kemana. Enam saudara ibunya, yg kini masih tinggal di rumah Rohanah, agaknya tidak terlalu bisa diharapkan karena mereka umumnya menjadi sopir angkutan dan petani penggarap.
Perang bersenjata selalu kejam dan manusialah yg selalu menjadi korbannya. Kobaran dendam, nafsu saling membinasakan, yg tak henti berkecamuk di ribuan kilometer dari bumi pertiwi menyisakan duka mendalam bagi sebuah keluarga di Sukabumi dan seorang anak berusia 13 bulan yg belum mengerti keadaan di sekitarnya.
Jenazah Siti Maemunah sdh ditemukan. Juru bicara Deplu Desra percaya yg ditemui di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis, mengungkapkan bahwa jenazah Siti disemayamkan di Rumah Sakit Al Houkum Al Tyir di Kota Tyre, Lebanon. Rencananya, jenazah Siti akan dievakuasi oleh Kedutaan Kuwait ke Damaskus, Suriah. Namun, pihak rumah sakit belum bisa membawa keluar jenazah tersebut karena blokade Israel. Belum diketahui kapan jenazah itu tiba di Tanah Air.[-O-]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar