Senin, 21 Juni 2010

ORANG TUA Kunci Mental Anak.

Uci, bocah berusia 11 tahun, pekan lalu nekat memanjat menara listrik saluran udara tegangan ekstra tinggi 150.000 volt di Cilitan, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Dalam keadaan marah , dia memanjat menara itu hingga ke puncak tanpa takut jatuh, sementara orang-orang yg berada di bawah sudah hampir pingsan melihatnya. Ibunya, Ehan (41), tak kuat berdiri melihat Uci beberapa kali disambar burung di puncak menara.

Uci nekat memanjat menara listrik karena tidak sabar menanti sepeda yg akan dipinjamnya pulang. Uci yg sangat gemar bermain sepeda harus meminjam sepeda milik Endang, tetangganya, kerana ayahnya tidak mampu membeli sepeda. Adapun Endang memerlukan sepeda itu untuk berjualan gas.

Untunglah, setelah dibujuk selama tiga jam dgn iming-iming sepeda, akhirnya Uci bersedia turun.

Kenekatan seorang bocah dalam melakukan hal-hal yg berbahaya, bahkan ada juga bocah yg bunuh diri, makin lama kerap terjadi. Pemicunya kadang kala masalah yg sangat sederhana. Apa yg mereka lakukan seperti orang dewasa lakukan. Ada yg gantung diri, ada yg terjun dari ketinggian, ada juga minum rcun serangga.

Menurut psikolog dari Universitas Indonesia,Kristi Purwandari, penyebab bunuh diri tidak sesederhana seperti putus cinta, tertekan di sekolah, atau bertengkar dgn orang tuanya. (Kompas,5/4/2009).

Kristi mengatakan, praktisi kesehatan mental biasanya akan memilah faktor predisposisi (faktor pemberi pengaruh yg bersifat lebih mendasar) dari faktor pencetus situasional. Putus cinta faktor pencetus, tetapi kemungkinan besar ada faktor lebih mendasar, misalnya kerentanan pribadi menghadapi tekanan. Tentu situasi sangat sulit dapat mempermudah orang kurang tangguh menghayati keputusan dan ketidak berdayaan.

Sementara itu, pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Adriana S Ginanjar, mengatakan, apa yg dilakukan anak-anak dalam menghabiskan hidupnya adalah mencontoh apa yg orang dewasa lakukan. ”Mereka mendapatkan informasi itu dari televisi, dari koran, atau dari pembicaraan dgn teman-temannya,” kata psikolog yg biasa dipanggil Ina itu.


Depresi

Dari Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995 yg dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan, diketahui, prevalensi anak (5-14 tahun) yg mengalami gangguan mental adalah 104 dari 1.000 anak, sementara orang dewasa yg mengalami gangguan mental 140 dari 1.000 orang dewasa.

Belum ada data mutakhir utk gangguan mental. Namun, Arist Merdeka Sirait, Sekjen komnas Perlindungan Anak, memperkirakan, anak yg mengalami stress dan depresi saat ini lebih banyak. "Situasi sosial ekonomi sekarang makin sulit dibandingkan empat belas tahun lalu. Orang tua pasti stress. Jika orang tua stres, anakpun akan tertekan," kata Arist.

Data di Litbang Kompas menunjukan , sepanjang tahun 2005-2008 ada 26 anak berus!a 5-17 tahun yg bunuh diri. Tingginya angka anak yg bunuh diri menunjukan anak tidak sekadar stress, tetap sdh mengalami depresi. Dengan informasi dan wawasan yg belum luas, seorang anak yg depressi bisa mengambil tidakan yg berbahaya.

Ina mengatakan, orang tua dgn kondisi sosial ekonomi menengah ke bawah sering kali kesulitan memberikan perhatian kepada anak, karena mereka sudah kelelahan mancari nafkah.

Uci Datang dari keluarga dgn ekonomi lemah. Kedua orang tuanya sibuk berjualan tahu goreng keliling. Ketika Uci meminta sesuatu, bisa jadi karena tidak sanggup memenuhi dan sudah kelelahan, Uci justru dimarahi. Dia lalu naik ke menara. Kenekatan Uci memanjat menara, pekan lalu, adalah yg keempat kaliya. Setelah dia memanjat, barulah orangtuanya memenuhinya.

“Ketika anak meminta sesuatu dan orang tua tidak memenuhi, anak jadi marah. Setelah dia berbuat sesuatu yg dramatis,barulah orang tua memerhatikan,” kata Ina. Kenekatan ini tentu saja berbahaya karena seorang anak tidak mempunyai informasi yg cukup mengenai tindakan yg diambil. Seperti kenekatan Uci memanjat menara litrik, selain bisa membahayakan jiwanya, kenekatan itu juga mengancam pasokan listrik. Jika tubuh Uci terseret medan listrik, sudah pasti terjadi hubungan pendek arus listrik dan matilah listrik se Jawa –Bali.

Komunikasi

Arist mengatakan, tekanan sosial ekonomi yg makin berat hanya bisa dikurangi dgn komunikasi yg baik antara orang tua dan anak. ”Jika orang tua memang tidak bisa memenuhi keinginan anak, berikan penjelasan mengapa permintaannya tidak bisa dipenuhi.

Komunikasi yg baik dan berkualitas ini akan bisa menjelaskan mengapa dia tidak bisa membeli barang-barang kebutuhan yg diiklankan di televisi, misalnya. ”Tidak mungkin kita menutup stasiun televisi atau mencegh lingkungan sosial mengganggu ketentraman anak. Kita juga sulit mengubah kurikulum sekolah yg tidak ramah pada anak,” ujar Arist.

Jika anak hanya dilarang atau ditolak permintaannya, anak akan menjadi bingung, kemana lagi dia akan meminta. Sementara orangtua adalah satu-satunya idola yg dimilikinya.[-O-]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar