Di tengah-tengah kesibukannya melayani permintaan para pelanggannya dari Batam dan Kudus, Yuni masih sempat bercerita mengenai perjuangan usaha sangkar burung miliknya.
Berawal dari kebosanan dengan rutinitasnya menjadi karyawati di sebuah perusahaan ekspor-impor, Yuni bersama suaminya merintis usaha mereka sendiri dengan cara berwirausaha. Bermodalkan ketrampilan yg dimiliki sang suami dalam membuat sangkar burung, bisa dibilang ini menjadi langkah awal utk memulai usahanya dan berbekalkan modal usaha seadanya.
Perempuan bernama lengkap Yuni Sumaning (39) sangat bersyukur dgn kemajuan usaha yg didirikannya 13 tahun lalu, tepatnya 1996, bersama suaminya, Tardiyanto (39). Ia mengaku, hasil usahanya telah membuatnya bisa beli kenderaaan, menyekolahkan anak, menggaji karyawan, dan lain-lain.
Secara pribadi, Yuni merasa menjadi pengusaha memiliki waktu kerja lebih bebas dan ritme kerjanya lebih santai dari pada pekerja seperti profesionalnya sebelumnya. Yang terpenting ia akan punya lebih banyak waktu di rumah untuk mengusrus anak-anak.
Kini usahanya telah berkembang pesat.”Pencinta burung di luar Solo mengatakan berlum ke Solo bila belum mampir ke sini,” katanya.
Dapat Bantuan
Keberhasilannya dalam industri sangkar burung tidak terlepas dari bantuan yg di dapat dari Bank Mandiri. Ia tidak hanya mendapatkan bantuan pinjaman dalam bentuk dana segar, tetapi juga mendapatkan berbagia kemudahan, misalnya dalam hal promosi dan pelatihan ketrampilan ketrampilan pendukung lain yg dibutuhkan oleh seorang pengusaha.
Modal awal usahanya hanya sekitar Rp. 3 juta dengan kapasitas produksi masih terbatas, yaitu 3 sangkar. Namun, setelah mendapatkan pinjaman Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) Bank Mandiri, kapasitas produksinya terus mengalami peningkatan sehingga ratusan sangkar perminggu.
Promosi Shella Sangkar di luar Solo juga semakin gencar. Shella sangkar diikutsertakan dalam berbagai pameran, baik di Solo, Yogyakarta, ataupun Jakarta.
Yang tidak kalah penting, berbagai pameran yg diikuti Shella Sangkar selalu sukses. Bahkan, saat di Yogyakarta dan di Pekan Raya Jakarta (PRJ), sangkar burung yg dibawa diborong habis oleh pengunjung pameran.
Berkat keikutsertaan mereka dalam berbagai pameran, Shella Sangkar kini sudah terkenal hingga Bali, Aceh, Batam, dan Kalimantan. "Dulu, jualan kami masih lokal saja, tetapi sekarang hingga pelosok Indonesia," Tardiyanto menambahi.
Selain itu, Bank Mandiri juga membenahi manajemen pembukuan para mitra binaan mereka. Yuni mengaku, manajemen keuangannya menjadi lebih rapi setelah mendapat pelatihan dari Bank Mandiri. Semua dicatat dalam nota. Setiap hari juga ada pembukuan khusus yg mencatat pengeluaran dan pemasukan uang.
Apa yg diperoleh Yuni Sumaning dan Tardiyanto, pemilik usaha sangkar burung Shella Sangkar, merupakan salah satu contoh bentuk komitmen PKBL. Bank Mandiri dalam memajukan usaha kecil.
Keunggulan Produk
Kesuksesan Shella Sangkar tentu tidak lepas dari kualitas produk yg dihasilkan. Dua jenis sangkar yg diproduksi, yaitu sangkar ukiran dan sangkar harian (tanpa ukiran), dikerjakan dgn penuh ketelitian dan kehati-hatian para pekerjanya.
Shella Sangkar juga tidak mematok harga yg terlalu tinggi terhadap produk-produk yg mereka hasilkan. Harga sangkar yg dijual di Shella Sangkar relatif lebih murah dgn kualitas terjamin, yaitu perbuah sangkar harian dihargai mulai 140 ribu - 160 ribu rupiah, sedangkan sangkar ukiran dihargai mulai 700 ribu - 2,2 juta rupiah.
Keunggulan yg dimiliki sangkar burung produksi Shella Sangkar ini adalah hasil garapannya yg rapi, finishingnya yg halus, serta penggunaan jenis kayu yg berkualitas, seperti kayu jati dan belina. Produksi sangkar burung tidak dikerjakan sendirian, tetapi dibantu oleh para pekerja yg sebagian besar dikoordinasi oleh anggota keluarga besar mereka.
Menurut Tardiyanto, selama kualitas produk baik dan harganya lebih murah, pelanggan akan datang. Oleh karena itu, Shella Sangkar tetap menjaga kualitas produk serta memperbaharui model dan motif ukir di tengah membanjirnya permintaan agar pecinta burung tidak lekas bosan.. Motif ukir yg sekarang sedang diminati adalah delapan dewa, 200 dewa, dan kera sakti, baik dengan pewarnaan tiga dimensi ataupun yg biasa.
Selain sangkar harian dan sangkar ukir, pelanggan biasanya juga membeli sangkar dalam bentuk mentahan (sangkar yg belum dirangkai) yg harganya tentunya tergantung jenis sangkar, ukuran sangkar, kerumitan motif ukiran, dan aksesoris yg perlu ditambahkan, seperti tenggeran (pijakan burung), wadah makan, tempat mandi, gantungan sangkar, hingga kain kerodong. Shella Sangkar juga melayani modifikasi sangkar harian menjadi sangkar ukir.
Kearifan Usaha
Menurut Yuni, saat-saat krisis seperti sekarang,bisnis sangkar burung tidak akan surut. Hal itu berdasarkan pengalaman mereka saat menghadapi krisis 1998. Pembelian meningkat karena mereka membeli burung dan sangkar sebagai hiburan.
Tardiyanto tidak mengelak bahwa selama menggeluti usaha ini, ia pernah mengalami li. Saat musim kemarau, bisa menjual 50 sangkar per minggu, tetapi saat musim penghujan , jumlah pembeli turun hingga kira-kira 10 sangkar per minggu. ”Sepi dianggap biasa, nanti akan ramai lagi,” pesan Tardiyanto.
Wirausaha yg baru merintis usaha diharapkan tidak mudah putus asa ketika menemui hambatan dalam menjalankan usaha, termasuk keterbatasan modal usaha dan sedikitnya pembeli. Yuni mengungkapkan, ”Awal-awalnya usaha susah, tetapi lama-lama bisa menikmati hasilnya. Jadi jangan menyerah.”[-O-]
permisi ya gan
BalasHapusokeyprofits
saya sudah coba dan rasakan keuntungannya
sekarang giliran anda untuk merasakan dan menikmati keuntungannya
modal 100 rb kita bisa untung jutaan rupiah hanya dalam 1 minggu.
deposit 10 USD untung 1,5% perhari
deposit 100 USD untung 2% perhari
dan kita dapat bonus 5% untuk seiap member baru yg kita rekrut
daftar dari url sya
http://www.okeyprofits.com/register.php?ref=mhdadi27
atau hubungi 087892336472 / 082166643133