Menjelang pelaksanaan Kongres Sepak Bola Nasional yg dimulai Selasa (30/3) besok, mulai muncul gejala memandulkan hasil kongres dgn meniadakan rekomendasi bagi perubahan di tubuh kepengurusan PSSI. Hal ini terlihat dari hendak dihilangkannya desakan pd Ketua Umum PSSI Nurdin Halid utk mundur dari usulan rekomendasi Kongres Sepak Bola Nasional.
Anggota Panitia Pengarah Sumohadi Marsis ketika dihubungi Minggu (28/3) tdk membantah hal itu. Namun, ia mengibaratkan situasi menjelang Kongres Sepak Bola Nasional (KSN) masih seperti "bola liar".
"Memang muncul ungkapan "ada yg masuk angin", namun semuanya masih seperti bola liar. Kita belum tahu apa yg akan disampaikan oleh peserta kongres," ujar Sumohadi.
Aktifis Gerakan Nasional utk Reformasi PSSI (Garasi) Isfahani, menyesalkan apabila desakan agar Nurdin mundur sbg Ketua Umum PSSI hilang dari rekomendasi KSN. "Kita patut curiga, ada apa dibalik semua ini. Jika usulan yg mendesak Nurdin mundur dihapus dari rekomendasi KSN, itu mengkhianati sengat awal (digelarnya KSN)," papar Isfahani.
Sejumlah mantan pemain tim nasional menolak upaya memandulkan hasil KSN. "Jangan main-main. Kongres ini utk memperbaiki persepakbolaan kita yg terus terpuruk," kata Anjas Asmara, mantan pemain tim nasional.
Seusai pertemuan dgn Ketua Umum KONI/KOI Rita Subowo beberapa waktu lalu, para mantan pemain tim Nasional menyatakan akan datang ke Kongres dgn membawa rekomendasi yg salah satunya adalah revolusi atau perombakan total kepengurusan saat ini.
"Sudah tujuh tahun tanpa prestasi, kami semua menginginkan perubahan. Kongres jangan hanya sekedar menjadi kongres-kongresan karena itu adalah harapan agar persepakbolaan kita bangkit," kata Andjas.
KSN berawal dari ide Presiden SBY yg merasa gerah dgn terpuruknya prestasi timnas akhir-akhir ini. Ia kemudian meminta pengurus pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) utk menggelar Kongres yg bakal digelar Selasa besok dan Rabu lusa.
Bantah Soal Dana
Sementara itu, Ketua Panitia Rembuk Sepak Bola Nasional (RSN) Lutfi Hakim membantah adanya kucuran Rp. 1,5 miliar utk menggelar pertemuan tiga hari di Hotel Shangri-La tdb. Luthfi membantah Ketua Umum PSSI Nurdin Halid ikut membidani lahirnya pertemuan ini. "Acara ini murni gagasan PWI Jatim dlm rangka Hari Pers Nasional. Kami juga meminta sumbangan ke mana-mana. Ada dari perusahaan, ada dari pengprov PSSI juga, tapi tidak mungkin sampai Rp. 1,5 miliar, paling ratusan juta rupiah," tutur Luthfil Minggu (28/3) di Surabaya.
Dalam pertemuan itu, Lutfi mengatakan bahwa peserta diinapkan di Hotel Shangri-La dan Java Paragon. Pihak hotel tdk bersedia memberitahu jumlah kamar yg dipesan panitia. Keinginan menghelat RSN, lanjut Lutfi, tdk terlepas dari gencarnya pemberitaan ttg KSN yg akan menjadi ajang utk „menghakimi“ PSSI. „Kami dari PWI Jatim merasa ini sudah tdk benar. RSN makanya dibuat utk menetralisasi keadaan ini. Kalau lihat materinya juga kan tentang pengembangan sepak bola,“ ungkapnya.
Nurdin Halid dgn tegas juga membantah bahwa dia ikut membiayai perhelatan RSN.”Tidak ada sepeser uang pun yg keluar dari kantong saya utk acara ini,” ucapnya.
Ketua Umum PWI Pusat Margiono, dalam sesi tanya jawab dgn peserta, mengatakan bahwa penyelenggaraan KSN di Malang jangan terlalu dicurigai.”Jangan terlalu curiga dan skeptis terhadap KSN. Tdk ada yg bisa menjamin apa keinginan para peserta dalam forum itu nanti,” ujarnya. [-O-]
Seusai pertemuan dgn Ketua Umum KONI/KOI Rita Subowo beberapa waktu lalu, para mantan pemain tim Nasional menyatakan akan datang ke Kongres dgn membawa rekomendasi yg salah satunya adalah revolusi atau perombakan total kepengurusan saat ini.
"Sudah tujuh tahun tanpa prestasi, kami semua menginginkan perubahan. Kongres jangan hanya sekedar menjadi kongres-kongresan karena itu adalah harapan agar persepakbolaan kita bangkit," kata Andjas.
KSN berawal dari ide Presiden SBY yg merasa gerah dgn terpuruknya prestasi timnas akhir-akhir ini. Ia kemudian meminta pengurus pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) utk menggelar Kongres yg bakal digelar Selasa besok dan Rabu lusa.
Bantah Soal Dana
Sementara itu, Ketua Panitia Rembuk Sepak Bola Nasional (RSN) Lutfi Hakim membantah adanya kucuran Rp. 1,5 miliar utk menggelar pertemuan tiga hari di Hotel Shangri-La tdb. Luthfi membantah Ketua Umum PSSI Nurdin Halid ikut membidani lahirnya pertemuan ini. "Acara ini murni gagasan PWI Jatim dlm rangka Hari Pers Nasional. Kami juga meminta sumbangan ke mana-mana. Ada dari perusahaan, ada dari pengprov PSSI juga, tapi tidak mungkin sampai Rp. 1,5 miliar, paling ratusan juta rupiah," tutur Luthfil Minggu (28/3) di Surabaya.
Dalam pertemuan itu, Lutfi mengatakan bahwa peserta diinapkan di Hotel Shangri-La dan Java Paragon. Pihak hotel tdk bersedia memberitahu jumlah kamar yg dipesan panitia. Keinginan menghelat RSN, lanjut Lutfi, tdk terlepas dari gencarnya pemberitaan ttg KSN yg akan menjadi ajang utk „menghakimi“ PSSI. „Kami dari PWI Jatim merasa ini sudah tdk benar. RSN makanya dibuat utk menetralisasi keadaan ini. Kalau lihat materinya juga kan tentang pengembangan sepak bola,“ ungkapnya.
Nurdin Halid dgn tegas juga membantah bahwa dia ikut membiayai perhelatan RSN.”Tidak ada sepeser uang pun yg keluar dari kantong saya utk acara ini,” ucapnya.
Ketua Umum PWI Pusat Margiono, dalam sesi tanya jawab dgn peserta, mengatakan bahwa penyelenggaraan KSN di Malang jangan terlalu dicurigai.”Jangan terlalu curiga dan skeptis terhadap KSN. Tdk ada yg bisa menjamin apa keinginan para peserta dalam forum itu nanti,” ujarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar