KUTA adalah satu-satunya kawasan di Bali yg tak pernah tidur. Begitu anggapan masyarakat wisatawan secara umum. Anggapan itu (mungkin) tidak sepenuhnya tepat, namun tidak sepenuhnya pula salah.
Pada pagi hari, ketika mentari mulai tampak dari ufuk timur, praktis kehidupan malam di kawasan itu berhenti dan siap beranjak, berganti dgn aktifitas di siang hingga sore hari.
Pergantyan hari di kawasan itu layaknya waktu jeda dalam sebuah pertandingan olahraga, terasa sangat singkat. Gerai-gerai toko fashion, restoran, dan kerajinan masih tutup. Di situ hanya ada maneken-maneken yg seolah beku di balik kaca. Bungkusan sampah yg digantung di pintu toko menjadi penegas waktu istirahat“. Hanya tampak beberapa petugas kebersihan membersihkan selasar-selasarnya, seperti terlihat pada awal April lalu.
Gang Poppies, salah satu kawasan penginapan turis berkantong cekak, di Kuta pun lengang. Tidak tampak adanya pergerakan wisatawan asing di kawasan itu. Selebihnya hanya warga setempat yg berlalu lalang, mulai dari pergi utk beribadat atau menghadiri upacara tertentu di pura, serta menyiapkan canang (sesaji) hingga mengantarkan anak ke sekolah.
Jika anda menemukan wisatawan asing di Kuta pagi hari, pastilah itu turis yg tidur kepagian di malam sebelumnya. Atau, mereka memang tipe turis yg tidak suka dgn hingar-bingar kehidupan malam. Mereka pergi pagi-pagi sekadar untuk mencari sarapan di restoran yg sudah buka, atau di toko-toko yg buka 24 jam.
Aktivitas di sepanjang pantai adalah aktivitas yg bergegas di pagi hari. Diis persiapan mereka yg mencari penghidupan di kawasan itu. Anak-anak pantai menyiapkan papan selancar dan kursi-kursi berjemur lengkap dgn payung-payungnya. Keluarga-keluarga pedagang menyiapkan lapak dagangannya. Menjelang tengah hari, mereka pun siap melayani turis dgn makanan seperti nasi campur, bakso, aneka rujak dan yg pasti minuman segar.[-O-]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar