Menatap Wajah Tua Kairo
Disebut gereja menggantung karena dibangun di atas benteng Romawi yg bagian atapnya diletakkan kayu palem dengan lapisan batu dari benteng sebagai lantainya. Salah satu bagian lantai gereja hanya ditutup kaca. Sehingga dengan jelas terlihat tidak adanya dasar kokoh yg melandasi bangunan. Atap gerejanya juga tak berbentuk kubah, seperti yg banyak di temui di Mesir, melainkan berbentuk kapal Nabi Nuh yg terbuat dari kayu.
Tak jauh dari Gereja gantung, terdapat sebuah sinagoga. Menurut cerita, di tempat itulah Nabi Musa pertama kali oleh permaisuri Firaun dan kemudian mengangkatnya menjadi anak.
Si Anggun Alexandria.
Puas dengan Old Cairo, perjalanan bisa dilanjutkan ke Alexandria, kota yg diluluh lantakkan kemudian dibangun dan dibesarkan oleh Alexandria yg Agung. Kota kedua terbesar di Mesir ini terletak 200 km dari Kairo. Memasuki kota ini, seolah dibawa ke Benua Eropa di masa lalu. Betapa tidak. Setiap sudut kota cantik ini dijejali berbagai Residensial, rumah makan, kafe ataupun gereja, yg begitu kental dengan sentuhan arsitektur Yunani dari masa Hellenisme.
Hal tersebut bukanlah tanpa alasan. Di tahun 333 SM, kota ini memang dikuasai Alexander yg Agung. Namanya pulalah yg diadaptasi untuk memberi nama kota yg wilayahnya membentang di sepanjang 32 km Laut Mediterania itu. Kini setiap bangunan, baik residensial maupun komersial, yg telah menginjak usia lebih dari 100 tahun di Alexandria dilindungi dan dijanjikan cagar budaya.
Pengaruh Yunani memang masih terasa dimana-mana di Alexandria. Bahkan hingga hari ini keturunan Arab-Yunani, hasil perkawinan penduduk Alexandria dan Yunani, masih banyak bersileweran di kota itu. Atmosfer Eropa tempo dulu pun kiankental dengan adanya kereta kuda yg siap mengangkut wisatawan yg ingin mengintip suasana Alexandria dgn cara yg berbeda.
Salah satu ikon di kota ini adalah Benteng Qaitbay yg dibangun pada abad 15. Di sekitarnya terdapat pantai yg dipenuhi manusia yg betah berlama-lama untuk sekedar menikmati hamparan laut biru sembari merasakan angin yg menerpa wajah. Yang tak kalah mengagumkan adalah mesjid El Morsy Abu El Abbas yg dibangun pada 1903an dan didesain oleh seorang arsitek Italia bernama Rossi. Masjid ini memancarkan daya tarik yg dahsyat, dengan kubah tinggi yg penuh ukiran dan ornamen cantik di bagian interiornya.
Museum Terbuka
Tiap sudut Mesir memang seolah menyimpan cerita sejarah dan budaya yg memiliki peran besar dalam sejarah perkembangan dunia. Mesir pun punya Luxor, sebuah kota yg dijuluki museum terbuka terbesar di dunia. Pasalnya, Luxor yg di masa lalu bernama Thebes itu, dipadati monumen dan peninggalan bersejarah yg kini berdampingan dengan gedung-gedung modern.
Salah satunya Kuil Luxor dan Kuil Karnak yg merupakan status religius kuno terbesar di dunia. Silakan terpaku mengagumi kuil batu yg dipenuhi patung-patung batu nan tinggi dan besar, lengkapdengan gambar-gambar hyrogliph pada dindingnya yg bercerita.
Oase Di Balik Padang Batu
Puas bertualang di kota-kota besar di Mesir, saatnya membelah Terusan Suez, menuju wilayah Mesir yg terletak di Benua Asia. Taba bisa menjadi pemberhentian berikut, yg berbatasan langsung dengan Israel bagian selatan. Perjalanan dari Kairo menuju Taba ditempuh lewat jalan darat dan memakan waktu 8 jam. Hanya bukit-bukit batu berukuran kecil yg menjadi pemandangan, terlihat silih berganti dengan gurun yg membentang di kiri dan kanan jalan.
Semakin dekat ke Taba, perjalanan jadi terasa makin liar. Jalanan lebar dan lurus yg seakan tak berujung berubah berkelok-kelok dan membelah gunung-gunung batu yg menjulang tinggi di kedua sisi jalan. Keahlian sang pengemudi benar-benar diuji di sini, mengingat banyaknya tikungan dan sulitnya menebak bentuk jalan karena tertutup gunung.
Yang menakjubkan adalah ketika melewati tikungan yang memperlihatkan pemandangan laut Merah yg berwarna kehijauan di antara himpitan dua gunung batu besar. Tikungan ini sekaligus menjadi penanda bahwa perjalanan kian dekat menuju wilayah peristirahatan. Benar saja, tak lama pemandangan didominasi hotel dan resor bintang
Inilah pemberhentian terakhir dari menjelajahi mesir yg tiap jengkalnya selalu meninggalkan pesan dan kesan tersendiri. Di sini pulalah tempat yg tepat untuk bermandikan hangatnya matahari, menatap senja di laut Merah dan mereguk keindahan di sudut Mesir.[-O-]