Minggu, 31 Januari 2010

Mengintip Sisi Lain MESIR

Begitu mendengar nama Mesir, bangunan pyramid boleh jadi akan terlintas di benak.Arsitek kuno yg hingga kini masih menjadi tanda tanya bagi para insinyur modern mengenai teknik pembuatannya itu memang begitu legendaries dan membawa nama mesir menjadi Negara yg punya keajaiban dunia.
Namun, Mesir yg wilayahnya dibagi dua di antara Benua Afrika dan Asia ini juga punya hal lain yang tak kalah menarik untuk ditelusuri. Kairo, memang tetap menjadi titik awal perjalanan. Namun, jangan lewatkan untuk mengunjungi area-area sekitarnya yg menawarkan pengalaman lain.

Menatap Wajah Tua Kairo
Adalah Old Cairo atau Kairo Lama, yg juga tak kalah punya nilai histori tinggi. Memasuki wilayah bersejarah itu, mata disambut dgn bangunan mesjid yg bersandingan mesra dengan gereja dan sinagoga, yg menjadi tanda kebesaran toleransi beragama di Mesir. Sejarah dan Kita Suci berbagai agama juga mencatat bahwa lebih dari 2000 tahun lalu, di kota inilah tempat pelarian Yusuf, Maryam, dan bayi Nabi Isa dari kejaran Raja Herodes. Raja herodes kala itu berambisi membunuh setiap bayi laki-laki yg baru lahir untuk melindungi kedudukannya sebagai Raja. Sebagai monument tempat tinggal keluarga muda itu, kini berdiri sebuah Gereja Coptic yg terkenal dengan sebutan Hanging Church atau Moallaka Church.

Disebut gereja menggantung karena dibangun di atas benteng Romawi yg bagian atapnya diletakkan kayu palem dengan lapisan batu dari benteng sebagai lantainya. Salah satu bagian lantai gereja hanya ditutup kaca. Sehingga dengan jelas terlihat tidak adanya dasar kokoh yg melandasi bangunan. Atap gerejanya juga tak berbentuk kubah, seperti yg banyak di temui di Mesir, melainkan berbentuk kapal Nabi Nuh yg terbuat dari kayu.

Tak jauh dari Gereja gantung, terdapat sebuah sinagoga. Menurut cerita, di tempat itulah Nabi Musa pertama kali oleh permaisuri Firaun dan kemudian mengangkatnya menjadi anak.


Si Anggun Alexandria.

Puas dengan Old Cairo, perjalanan bisa dilanjutkan ke Alexandria, kota yg diluluh lantakkan kemudian dibangun dan dibesarkan oleh Alexandria yg Agung. Kota kedua terbesar di Mesir ini terletak 200 km dari Kairo. Memasuki kota ini, seolah dibawa ke Benua Eropa di masa lalu. Betapa tidak. Setiap sudut kota cantik ini dijejali berbagai Residensial, rumah makan, kafe ataupun gereja, yg begitu kental dengan sentuhan arsitektur Yunani dari masa Hellenisme.

Hal tersebut bukanlah tanpa alasan. Di tahun 333 SM, kota ini memang dikuasai Alexander yg Agung. Namanya pulalah yg diadaptasi untuk memberi nama kota yg wilayahnya membentang di sepanjang 32 km Laut Mediterania itu. Kini setiap bangunan, baik residensial maupun komersial, yg telah menginjak usia lebih dari 100 tahun di Alexandria dilindungi dan dijanjikan cagar budaya.

Pengaruh Yunani memang masih terasa dimana-mana di Alexandria. Bahkan hingga hari ini keturunan Arab-Yunani, hasil perkawinan penduduk Alexandria dan Yunani, masih banyak bersileweran di kota itu. Atmosfer Eropa tempo dulu pun kiankental dengan adanya kereta kuda yg siap mengangkut wisatawan yg ingin mengintip suasana Alexandria dgn cara yg berbeda.

Salah satu ikon di kota ini adalah Benteng Qaitbay yg dibangun pada abad 15. Di sekitarnya terdapat pantai yg dipenuhi manusia yg betah berlama-lama untuk sekedar menikmati hamparan laut biru sembari merasakan angin yg menerpa wajah. Yang tak kalah mengagumkan adalah mesjid El Morsy Abu El Abbas yg dibangun pada 1903an dan didesain oleh seorang arsitek Italia bernama Rossi. Masjid ini memancarkan daya tarik yg dahsyat, dengan kubah tinggi yg penuh ukiran dan ornamen cantik di bagian interiornya.


Museum Terbuka

Tiap sudut Mesir memang seolah menyimpan cerita sejarah dan budaya yg memiliki peran besar dalam sejarah perkembangan dunia. Mesir pun punya Luxor, sebuah kota yg dijuluki museum terbuka terbesar di dunia. Pasalnya, Luxor yg di masa lalu bernama Thebes itu, dipadati monumen dan peninggalan bersejarah yg kini berdampingan dengan gedung-gedung modern.

Salah satunya Kuil Luxor dan Kuil Karnak yg merupakan status religius kuno terbesar di dunia. Silakan terpaku mengagumi kuil batu yg dipenuhi patung-patung batu nan tinggi dan besar, lengkapdengan gambar-gambar hyrogliph pada dindingnya yg bercerita.


Oase Di Balik Padang Batu

Puas bertualang di kota-kota besar di Mesir, saatnya membelah Terusan Suez, menuju wilayah Mesir yg terletak di Benua Asia. Taba bisa menjadi pemberhentian berikut, yg berbatasan langsung dengan Israel bagian selatan. Perjalanan dari Kairo menuju Taba ditempuh lewat jalan darat dan memakan waktu 8 jam. Hanya bukit-bukit batu berukuran kecil yg menjadi pemandangan, terlihat silih berganti dengan gurun yg membentang di kiri dan kanan jalan.

Semakin dekat ke Taba, perjalanan jadi terasa makin liar. Jalanan lebar dan lurus yg seakan tak berujung berubah berkelok-kelok dan membelah gunung-gunung batu yg menjulang tinggi di kedua sisi jalan. Keahlian sang pengemudi benar-benar diuji di sini, mengingat banyaknya tikungan dan sulitnya menebak bentuk jalan karena tertutup gunung.

Yang menakjubkan adalah ketika melewati tikungan yang memperlihatkan pemandangan laut Merah yg berwarna kehijauan di antara himpitan dua gunung batu besar. Tikungan ini sekaligus menjadi penanda bahwa perjalanan kian dekat menuju wilayah peristirahatan. Benar saja, tak lama pemandangan didominasi hotel dan resor bintang lima.

Inilah pemberhentian terakhir dari menjelajahi mesir yg tiap jengkalnya selalu meninggalkan pesan dan kesan tersendiri. Di sini pulalah tempat yg tepat untuk bermandikan hangatnya matahari, menatap senja di laut Merah dan mereguk keindahan di sudut Mesir.[-O-]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar