Tepatnya dipertigaan Rawa Belong, Jakarta Barat. Pertigaan ini menghubungkan jalan Palmerah Barat, Jalan Kebayoran Lama & jalan Rawa belong. Meski Cuma pertigaan dgn panjang yg awalnya tdk lebih dari 25 meter, pertigaan itu sdh mulai dikenal pd pertengahan abad-19. Menurut Umar Salbini (57), pekerja seni Betawi di Rawa Belong yg ditemui Senin (2303), nama pertigaan itu diambil dari nama lokasi dekat kubur batu kampong srengseng, Jakarta Barat, yaitu Rawa Belong.Suatu ketika seorang marsose yg sedang berdiri di pertigaan menyebut nama Rawa Belong sbg Rawa Blong. Warga yg mendengarnya lalu menyebut pertigaan itu, pertigaan Rawa Belong.
Awalnya, lokasi ini Cuma sederetan warung kopi & penganan tempat berkumpul warga Kampung Sukabumi Ilir, Kemanggisan, Kemandoran, Keboin nanas, pos pengumben, Joglo, Meruya, kebon jeruk, srengseng & kampong rawa.
Tak jauh dr pertigaan ada istal (tempat peristirahatan) kuda. Maklum, kala itu pertigaan ini menjadi bagian dari jalur delman. Karena tempatnya strategis, kepada kenalannya, warga sejumlah kampong tadi memberi alamat rumahnya dgn alamat rawa belong. Harapan mereka sesampai di pertigaan rawa belong sikenalan bisa bertanya kpd orang-orang sekitar pertigaan tentang alamat warga yg dituju.
Itu sebabnya warga kampong sekitar pertigaan rawa belong lalu menyebut dirinya sbg warga rawa belong.
CINGKRIK
Dari tempat nongkrong, pertigaan Rawa Belong berkembang menjadi arena para Jawara (pendekar) Betawi. Setelah nama si Pitung mencuat warga RB kian disegani. Meski demikian, kata umar, mereka dikenal sangat menghormati tamu yg santun & taat beribadah.
Sepeninggal Pitung, di RB berkembang Maen Pukul (bela diri) Cingkrik. Bela diri ini diciptakan salah seorang warga, Ki Maing. Menurut Hasan Basri, salah seorang guru Maen Pukul Cingkrik yg akrab dipanggil Cacang, Maen Pukul Cingkrik kemudian disebar luaskan oleh ketiga murid andalannya, Ki Saari, Ki Ajid dan Ki Ali.
Dari tangan ketiganya,
Ki Ajid, lanjutnya, mengembangkan Cingkrik di kalangan alim. Oleh karena itu, gerakannya lebih indah dgn kembangan gerak yg lebih banyak. “Ki Ali mengembangkan Cingkrik lebih lugas, keras, dan ringkas. Maklum ia seorang Jawara,” ucap Cacang.
Tahun 1960-an, pertigaan RB berkembang menjadi pasar induk sayur-mayur dan buah. Hasil bumi yg berasal dari warga RG dibeli pedagang dari Tanjung Priok, Pasar Senen, Pasar Kemayoran, Pasar Tanah Abang, dan pasar Kebayoran Lama.
BANDENG IMLEK
Di sela-sela kegiatan pasar, muncul dua tradisi, Ramadhan dan Imlek. Setiap Ramadhan dating, warga saling mengantar kue putu mayang dan roti sirup sebagai hidangan berbuka puasa kerabat. Di bulan suci itu, sekitar simpang tiga RB berubah menjadi pasar penganan berbuka puasa. Mushala dan Masjid ramai oleh musik marawis.
Sepekan menjelang Imlek sampai Imlek tiba, pertigaan RB kembali ramai oleh pedagang dan pembeli ikan banding. Pembeli yg dating bukan hanya dari kalangan
Meski tidak sekental dulu, kedua tradisi ini masih berlangsung sampai sekarang. Demikian pula tradisi pernikahan Betawi di
Setelah pasar induk Keramat Jati, Jakarta Timur, dibangun, pasar induk RB surut. Berkembanglah kemudian pasar bunga. Usaha tanaman hias pun berkembang di kalangan warga.
BELUM BERDAMPAK
Tahun 1996 muncul Universitas Bina Nusantara yg membuat RB kian ramai. Sepuluh tahun kemudian usaha rumah kos, cuci pakaian, bengkel sepeda motor, layanan bank, toko-toko yg melayani kebutuhan mahasiswa dan tempat makan tumbuh pesat.
Sayang, tampaknya kehadiran universitas dan rangkaian usaha yg menyertai kehadiran universitas tsb di RB belum banyak berdampak pada pemeliharaan dan pengembangan budaya Betawi.
Meski pertigaan RB kini nyaris tak pernah tidur lagi seperti pada pertengahan abad-19, hubungan social antara warga pendatang dgn warga Betawi belum mampu melahirkan tradisi kebersamaan yg baru seperti pd tradisi Ramadhan dan imlek di RB.
Anda ingin menyusur jalur jalan itu sebelum singgah di salah satu tempat makan? Atau membeli bunga? Membeli tanaman hias? Nikmati dulu hiruk pikuk lalu lintas Betawi tempo dulu.
Maklum, jumlah Mikrolet di jalur ini lebih banyak dari penumpangnya. Mereka merayap berebut penumpang, atau berhenti berderet menutup jalan di persimpangan. Suasananya mirip saat delman dan opelet mengepung kawasan ini.[-O-]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar