Dulu Cuma Tonton di TV, Kini Bule Bisa Jelajahi Sendiri
Ruang tamu itu terlihat sangat berantakan. Kardus-kardus berisi pakaian, sepatu, dan tas bekas terserak di lantai. Meja tamu tertutup dengan tumpukan buku, majalah, dan koran. Seperangkat komputer tergeletak di sudut ruangan tersebut. Di ruangan inilah sang tuan rumah, Ronny Poluan, menjalankan bisnis perjalanan wisata Jakarta Hidden Tour (JHT).
"Beginilah tempat saya bekerja. Maaf agak berantakan," jelas Ronny saat detikcom menyambangi rumahnya di Pondok Kelapa Blok 5A, No 8, Jakarta Timur, Rabu (13/1/2010). Baru saja perbincangan dimulai, Ronny langsung menjelaskan perihal kardus-kardus yang terserak di ruang tamu. Menurutnya, 15 kardus berisi pakaian, sepatu dan tas bekas itu merupakan pemberian dari kliennya, para turis asing yang sempat diantar melihat daerah-daerah miskin di
untuk nantinya dibagikan kepada warga miskin yang sudah didatangi.
"Turis-turis yang pernah saya antar ke daerah kumuh meminta saya untuk menyalurkannya ke tempat-tempat yang sebelumnya mereka kunjungi," ujarnya. Dikatakan Ronny, para turis yang pernah diantarnya mengunjungi daerah kumuh di Luar Batang, Galur, dan Kampung Pulo, juga mengirimkan uang dengan jumlah yang bervariasi.
Sejak Januari 2008, Ronny memang mulai menjalankan usaha perjalanan wisata yang sangat unik. Ronny menawarkan tur ke daerah kumuh di
Gagasan paket wisata kemiskinan di
Lantas, ia pun bertanya kepada penjaga museum yang bernama Maskun, dimanakah Maskun tinggal. Ternyata tidak jauh. Maskun tinggal di Luar Batang yang hanya ratusan meter dari museum. Ronny dan Herve langsung meminta diajak ke rumah Maskun. Ketika tiba di rumah Maskun, Ronny dan Herve mendapatkan sambutan yang sangat hangat sekalipun kehidupan Maskun memprihatinkan. Perjalanan itu menjadi sangat berkesan untuk Herve, turisyang dibawa Ronny. "Saya dan teman saya saat itu merasa enjoy. Tidak ada rasa takut maupun risih berbincang-bincang dan foto-foto di lingkungan rumah Maskun," kenang Ronny.
Nah, dari pengalaman itu Ronny pun terpikir untuk mengajak orang asing berkunjung dan melihat-lihat daerah kumuh, seperti Luar Batang. Bagi Ronny, kondisi kumuh bukan suatu hal yang menjijikan untuk dikenang. Potret kemiskinan ternyata dinilai para turis bule sebagai sesuatu yang eksotis dan unik. Apalagi banyak turis asing yang sudah jenuh dengan suasana
Pendapat Ronny ternyata terbukti. Sebagian besar turis asing serta kenalan yang diantarnya mengucapkan kekaguman atas paket wisata unik dari Ronny. Mereka bilang, dengan mengunjungi daerah miskin di
Pemprov dan DPRD DKI Jakarta menganggap paket wisata yang mengunjungi kantong-kantong kemiskinan telah melenceng dari tujuan kepariwisataan. Yang disodorkan Ronny bukanlah keindahan, melainkan kemiskinan dan kekumuhan. Bahkan ada yang menuding Ronny hanya ingin mencari untung dari menjual kemiskinan warga
"Kita hanya mengajak para turis melihat realita apa adanya. Sejauh ini tanggapan mereka sangat positif kepada masyarakat kita. Bahkan mereka siap membantu," kata Ronny. Ia juga membantah kalau aktivitas yang dilakukannya hanya mencari untung semata. Sebab, uang yang dibayarkan para turis, sebagian disalurkan kepada kelompok masyarakat yang menjadi obyek wisata tersebut.
Sebagai informasi, paket wisata kemiskinan yang dilakukan JHT bila dikurs ke dalam rupiah tarifnya berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta. Harga yang dipatok masih bisa ditawar, tergantung negosiasi. Tapi memang, aku Ronny, kebanyakan turis asing tidak suka tawar-menawar. Bila mereka merasa cocok maka langsung membayar. Kata Ronny, kegiatan wisata ke lokasi kumuh tersebut tidak untuk mencari keuntungan. Tujuan sesungguhnya adalah membuka pintu interaksi social budaya bagi masyarakat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar