Minggu, 03 Januari 2010

JOGJA, Wajah Baru Asia yg Tiada Akhir.

Untuk membenahi pariwisatanya, Jogja menetapkan semacam merek dagang, yaitu :JOGJA Never Ending Asia” yg diharapkan akan menunjang Jogja utk lebih laku dikunjungi wisatawan mancanegara, seperti Singapora yg menyebut diri sebagai New Asia, atau Malaysia dgn Truly Asianya.

SRI Sultan Hamengkubuwono X sebagai Gubernur DIY pun telah resmi mengganti huruf “Y” pada Yogya menjadi “J”, sehingga menjadi Jogja. Hal ini dgn pertimbangan lidah wisatawan mancanegara lebih mudah mengucapkan huruf “j” dibanding “y”.

Seperti lazimnya sebuah merek yg bercitra global, maka Jogja Never Ending Asia sengaja dibuat dalam bahasa Inggris dgn kata “Jogja” pd logonya diambil dari tulisan tangan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Huruh J yg panjang digambarkan sbg symbol payung atau perlindungan bagi masyarakat kota yg dijalan-jalannya didominasi pengendara motor ini. Huruf O menggambarkan wajah anak kecil dgn tatapan mata menerawang jauh sbg symbol pengharapan Jogja baru yg lebih baik.


Taklukkan Keangkuhan Alam

Sbg daerah kedua di Indonesia setelah Bali yg terbanyak dikunjungi wisatawan asing, Jogja memang kaya akan obyek wisata. Terutama wisata yg sarat dgn kandungan kultur tradisional dan peninggalan bersejarah yg hingga kini msh menjadi primadona. Walaupun kemisteriusan kraton serta keunikan jalan Malioboro masih menjadi sorotan utama, namun Jogja memiliki pesona lain yg saying utk dilewatkan berkat keragaman aspek alamnya.

Sebut saja wisata alam dan wisata minat khusus yg akhir-akhir ini sedang digarap serius oleh Pemda setempat, seperti arung jeram, mendaki gunung merapi, panjat tebing dan susur gua (caving). Jogja sebagai daerah tujuan rafting mungkin msh belum terlalu dikenal. Namun sungai Elo, sungai Progo, dan sungai Serayu siap menawarkan wisata arung jeram dgn beragam grade dan tingkatan kemahiran.

Sungai Elo yg punya tingkat rendah (antara 2-3 dalam skala 5) sehingga beresiko paling kecil ini khusus ditujukan bagi wisatawan yg masih awam akan olah raga rafting. Sedangkan sungai Progo dinilai oleh pencinta rafting sbg sungai yg potensial memiliki grade tertinggi di Jawa, serupa dgn sungai serayu yg punya grade 3-4.

Obyek wisata panjat tebing di DIY terdapat di tebing Parangendong Parangtritis, tebing batu Hiyam di lereng Gunung Merapi, tebing kali Pancur di kopeng, tebing sangopati di Imogiri, dan Bantul. Obyek wisata caving dpt dinikmati di gua Cerme, gua Crubung, Gua Seropan, Gua Semuluh, dan Gua Jomlang di Kabupaten Gunung Kidul.


Berbasis Komunitas Setempat.

Primadona alam DIY adalah wisata gunung api, seperti trekking dan climbing di Gunung Merapi yg penuh misteri namun sangat indah melegenda. Kaliurang adalah titik utk memulai wisata petualangan merapi. Untuk menunjang hal tsb, telah dikembangkan berbagai sarana penginapan dgn harga terjangkau, lengkap dgn fasilitas rumah makan dan rekreasi. Wisata Gunung Api ini sekaligus dirancang sbg media pendidikan lingkungan dan pelestarian alam, terutama bagi generasi muda. Seperti yg diusahakan oleh Hotel Vogels milik Christian Awuy di Kaliurang yg berhawa sejuk, menawarkan beragam paket ekowisata Merapi.

Pilihan turnya ada yg mengombinasikan wisata gunung api dan kehidupan masyarakat setempat. Ragam tur yg dimulai sejak subuh ini terdiri dari menelusuri jalan setapak menuju puncak Merapi utk melihat dari dekat lava pijar yg keluar dari kepundan. Kemudian disambung dgn menyantap sarapan yg disediakan secara tradisional oleh masyarakat setempat di sebuah pondok bambu di tepi Kali Kuning. Peserta tur juga dpt menyaksikan aktivasi bercocok tanam dan beternak penduduk setempat yg sederhana namun guyub.

Tersedia pula paket wisata utk mengamati dan mempelajari tingkah laku burung (termasuk Elang Jawa yg nyaris punah) di hutan lindung di lereng Merapi. Paket tur yg paling tdk terlupakan adalah menginap semalam di lokasi yg dekat dgn lava pijar sehingga peserta dapat merasakan sensasi kedahsyatan alam ketika mendengar gemuruh dentuman dari dalam perut Merapi.


Pesona Pantai.

Seperti Bali, Jogjapun tidak kalah memiliki pantai yg cantik. Walaupun belum dikembangkan semaksimal Bali, justru di situlah daya tarik wisata pantai di Jogja. Sebut saja pantai Parangtritis yg terkenal dgn hamparan pasirnya yg luas serta berbagai peninggalan sejarah. Pantai Glagah di Kabupaten Kulon Progo yg terletak 40 km dari kota Jogja menawarkan keindahan alami pantainya dgn berbagai sarana, seperti kolam pemancingan, taman rekreasi, camping ground dan gardu pandang.

Pantai tiga serangkai Baron, Kukup dan Krakal di Kabupaten Gunung Kidul adalah pantai yg sayang utk dilewatkan. Perjalanan ke sana pun sudah cukup menghibur dgn pemandangan sawah dan perbukitan di sepanjang jalan. Pantai Kukup yang berpasir putih kekuning-kuningan dan goa-goa karang yg teduh, serta ikan hias air laut ini terletak 1 km dari pantai Baron. Pantai Krakal yg paling indah di antara 3 serangkai dpt dicapai melalui jalan sepanjang 6 km dari kawasan pantai Kukup. Berbentuk landai dan berpasir putih, Pantai Krakal terhampar sepanjang lebih dari 5 km.

Dari semua perbaikan yg telah dan akan dilakukan, Jogja memang semakin mantap menyambut wisatawan yg ingin berkunjung ke daerahnya. Beragam infrastruktur utk mempermudah akses telah dilakukan. Setelah mengubah Bandara Adisucipto menjadi Bandara Internasional serta dibukanya penerbangan langsung dari Kuala Lumpur dan Singapra oleh berbagai Maskapai penerbangan dalam maupun luar negri, Jogja semakin merengkuh pasar internasional dgn pesona Asia tanpa akhirnya dalam balutan keramahan.

Jadi, sebaiknya segera buat rute pilihan baru dikunjungan ke Jogja selanjutnya. Jika sebelumnya sudah mengenal keindahan Keraton, kegempitaan jalan Malioboro, serta Candi Borobudur dan Prambanan, kali ini bias mencoba menikmati keindahan alam yg dahsyat dan pasti tak terlupakan.[-O-]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar